**Borneonews - Beirut**, Asosiasi Medis Internasional Lebanon (ILMA) telah mengeluarkan pernyataan mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menghentikan tindakan yang dianggap "melumpuhkan" sistem kesehatan di Lebanon akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Israel. Desakan ini disampaikan pada hari Sabtu, 5 Oktober 2024.
Sebelumnya, pada hari Jumat, 4 Oktober 2024, sejumlah rumah sakit di Lebanon dilaporkan tidak dapat beroperasi akibat serangan Israel. Rumah Sakit Pemerintah Marjayoun, Rumah Sakit Pemerintah Mays al-Jabal, dan Rumah Sakit Salah Ghandoor adalah beberapa fasilitas kesehatan yang terdampak. Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keselamatan pasien serta tenaga medis yang masih ada di lokasi yang terancam serangan lebih lanjut.
ILMA menyerukan adanya intervensi dari WHO dan PBB agar tim medis dapat dievakuasi dari Rumah Sakit Salah Ghandoor. Mereka menekankan pentingnya untuk melindungi para pekerja kesehatan serta fasilitas medis yang ada. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa "kejahatan yang terus berlanjut terhadap sektor kesehatan dan tim darurat telah melanggar ajaran piagam PBB dan hak asasi manusia," khususnya hak setiap individu untuk mendapatkan perawatan medis yang layak.
Lebih lanjut, organisasi ini menggarisbawahi bahwa tindakan yang dilakukan oleh Israel bertentangan dengan ketentuan dalam Konvensi Jenewa. Mereka mendesak agar ada langkah-langkah efektif untuk mengakhiri praktik yang dianggap sebagai tindakan kriminal tersebut terhadap korban yang terluka, petugas medis, serta sektor kesehatan secara keseluruhan.
Pada hari Kamis, 3 Oktober 2024, Menteri Kesehatan Lebanon, Firas Abiad, mengungkapkan statistic kelam sebagai akibat serangan udara Israel. Sejak 23 September 2024, ada 97 petugas medis dan darurat yang ditemukan tewas, serta lebih dari 10 rumah sakit mengalami kerusakan.
Konflik dengan Hizbullah juga semakin meningkat seiring dengan perang yang berkecamuk di Gaza. Laporan menunjukkan bahwa lebih dari 41.800 jiwa, kebanyakan merupakan wanita dan anak-anak, telah kehilangan nyawa akibat serangan oleh kelompok Palestina, Hamas, pada bulan Oktober tahun lalu.
Data dari otoritas Lebanon mencatat setidaknya 2.011 orang tewas, lebih dari 9.500 yang terluka, dan 1,2 juta orang mengungsi dari rumah mereka. Komunitas internasional mengingatkan bahwa meningkatnya serangan Israel di Lebanon dapat berpotensi memperluas konflik yang sedang berlangsung di Gaza menjadi sebuah perang regional yang lebih meluas.
ANTARA
ILMA Desak WHO dan PBB Hentikan Serangan Israel di Lebanon
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Komentar (0)
Memuat komentar…







