JAKARTA –
**Borneonews - Lembata**, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek) baru saja meluncurkan Program Muda Berdaya untuk Kedaulatan Pangan (MBKP) Tahun 2024 di Kabupaten Lembata, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Inisiatif ini memiliki tujuan yang mulia, yakni untuk memajukan kebudayaan serta menguatkan kedaulatan pangan yang berasal dari Indonesia. Dalam rangka pelaksanaan program ini, sebanyak 218 mahasiswa yang berasal dari 103 perguruan tinggi yang tersebar di 29 provinsi di tanah air akan ditempatkan di berbagai lokasi di Lembata. Mereka akan melakukan aktivitas pendataan yang berkaitan dengan potensi pangan lokal, memetakan lokasi lahan pertanian yang ada di sejumlah desa, serta mengamati pola produksi, distribusi, dan konsumsi masyarakat selama periode 3,5 bulan. Dalam kesempatan tersebut, Sjamsul Hadi, yang menjabat sebagai Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, mengharapkan agar para mahasiswa dapat mengenali dan berkolaborasi dengan mentor serta tokoh adat. Hal ini penting agar mereka dapat memahami lebih dalam kearifan lokal, sekaligus mengidentifikasi beragam pangan lokal serta teknik-teknik produksi yang ada di daerah tersebut. Sjamsul menegaskan bahwa MBKP adalah hasil dari kolaborasi antara Direktorat Jenderal Kebudayaan dan program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) yang merupakan bagian dari kebijakan *Merdeka Belajar Kampus Merdeka* (MBKM) di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek). Ia juga menambahkan bahwa program ini dimaksudkan sebagai investasi jangka panjang untuk mengubah pandangan masyarakat mengenai pentingnya pangan lokal. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjelajahi ide, minat, dan bakat mereka, sehingga dapat menghasilkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat. Di sisi lain, Paskalis Ola Tapo Bali, yang menjabat sebagai Penjabat Bupati Lembata, menyampaikan apresiasinya terhadap program MBKP. Ia mengungkapkan harapannya agar hasil dari program ini tidak hanya menghasilkan pangkalan data, tetapi juga dapat memberikan rekomendasi untuk kebijakan pemerintah Kabupaten Lembata melalui Rencana Aksi Daerah. "Saya berharap output dari MBKP ini dapat mencakup usulan strategi program dan kegiatan yang relevan dalam penyusunan rencana aksi untuk 29 desa yang menjadi sasaran," ujar Paskalis. Tanggapan positif juga datang dari para peserta program. Salah satunya adalah Atthoya Atthur Harry Aslam, mahasiswa dari Universitas Riau, yang menyatakan bahwa tugasnya sebagai enumerator atau pengumpul data di dalam MBKP sangat menarik. Menurutnya, pengalaman ini dapat mengembangkan kemampuannya sebelum terjun langsung ke dunia kerja. "Pangan lokal adalah bagian dari kebudayaan kita. Di Indonesia, terdapat banyak variasi pangan lokal. Saya sangat tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang hal ini, terutama mengenai kearifan lokal yang ada di Lembata, dan bagaimana cara mengolahnya sehingga memiliki nilai tambah," demikian ungkap Atthoya dengan penuh semangat. ANTARA