BANTEN –
**Borneonews - Lebak**, Sejumlah perajin atap rumbia di Kabupaten Lebak, Banten, saat ini menghadapi kesulitan dalam memperoleh bahan baku daun *kiray* rumbia. Hal ini disebabkan oleh perkembangan pesat dalam sektor pembangunan infrastruktur di daerah tersebut. Menurut Mad Aceng, Ketua Kelompok Perajin Atap Rumbia di Kecamatan Cibadak, para perajin terpaksa mencari daun *kiray* ke luar daerah, mengingat sumber lokal yang sebelumnya ada sudah berkurang secara signifikan. "Kami kini terpaksa untuk mendapatkan daun *kiray* rumbia keluar daerah," ujarnya pada hari Minggu. Kondisi ini dialami oleh banyak perajin di beberapa desa di Kecamatan Cibadak, dimana sebelumnya terdapat sekitar 10 hektare ladang pohon *kiray* yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 50 perajin. Namun, aktivitas pembangunan, seperti proyek Jalan Tol Serang-Panimbang dan pembangunan perumahan serta gedung perkantoran, mengakibatkan berkurangnya lahan tersebut. Akibat dari penurunan pasokan daun *kiray*, saat ini hanya tinggal 20 orang perajin yang aktif dengan area pohon yang tersisa kurang lebih 1,5 hektare. "Kami bersama rekan-rekan perajin lainnya terpaksa bepergian ke pelosok desa di kecamatan lain di Kabupaten Lebak dan Serang untuk mendapatkan daun *kiray*," jelasnya. Pentingnya atap rumbia dalam pembangunan terlihat dari peningkatan permintaan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya permintaan mencapai 2.000 lembar per bulan, kini telah meningkat menjadi 6.000 lembar. Kebutuhan ini banyak berasal dari pengembangan permukiman masyarakat Badui, rumah makan, pembangunan pondok pesantren, kandang ayam, *gazebo*, dan keperluan lainnya. Mad Aceng menjelaskan bahwa dalam tiga bulan terakhir, mereka berhasil memenuhi permintaan konsumen sebanyak 6.000 lembar atap dengan harga Rp3.000 per lembar, yang menghasilkan pendapatan sekitar Rp18 juta per bulan. Sejalan dengan itu, Rohman, seorang perajin lainnya yang berusia 50 tahun, juga mengalami masalah serupa di mana pasokan daun *kiray* semakin menipis, sementara permintaan justru terus meningkat. Bahkan, untuk bulan Oktober 2024, dirinya telah menerima pesanan sebanyak 5.000 lembar untuk pembangunan perumahan masyarakat Badui yang terkena dampak bencana puting beliung. Dalam upaya memenuhi permintaan tersebut, Rohman kini mencari daun *kiray* di pedesaan di Kabupaten Serang. "Kami berkomitmen untuk memenuhi pesanan 5.000 lembar atap dengan harga Rp5.000 per lembar, sehingga total pendapatan dari pesanan ini mencapai Rp25 juta," tambahnya. Deni Iskandar, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, menyarankan agar para petani mulai mengembangkan tanaman *kiray* rumbia di lahan darat. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan pasokan dan memenuhi kebutuhan perajin atap rumbia. "Kami percaya bahwa dengan mengembangkan tanaman *kiray*, petani dapat meraih nilai tambah serta meningkatkan pendapatan mereka," tutup Deni. ANTARA