**Borneonews - Solo, Jawa Tengah**, Mengenang perjalanan hidup yang penuh liku, Agus Fitriadi menjadi simbol keberanian setelah mengalami tragedi yang mengubah hidupnya. Pada tahun 2000, suasana ceria seorang remaja berusia sekitar 13 tahun mendadak berubah menjadi kepanikan yang mendalam.
Saat itu, Agus, seorang siswa kelas 2 SMP, sedang bersenang-senang bersama teman-temannya di dalam kereta rel listrik di Jakarta. Tak disangka, ia terpeleset dan terjatuh pada saat kereta berjalan dengan kecepatan tinggi. Dalam insiden tersebut, kakinya remuk akibat terseret badan kereta, dan jari kelingking tangan kanan mengalami luka yang parah.
Setelah kejadian itu, Agus segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengambil keputusan yang sangat sulit, yakni mengamputasi kakinya, dan juga tidak dapat menyelamatkan jari kelingkingnya. Peristiwa tragis ini membuat hidup Agus berubah secara drastis. Dia merasakan kehilangan yang mendalam atas bagian tubuh yang menemaninya beraktivitas sehari-hari.
Perasaan malang terus menyertai Agus. Ia merasa menjadi beban bagi orang tuanya dan ragu tentang masa depannya, seperti sekolah dan mendapatkan pekerjaan. Pikiran saya sudah tidak karuan, ungkap Agus mengenang masa-masa sulit itu.
Selama dua tahun menjalani proses pemulihan, Agus bergelut dengan rasa frustrasi dan berbagai pikiran negatif. Namun, ia akhirnya memilih untuk melawan keadaan tersebut. Kesempatan datang kepada Agus saat temannya, Kusnan Efendi, mengajaknya berlatih *tenis kursi roda*, meskipun Agus belum pernah menggunakan kursi roda sebelumnya.
Sekitar tahun 2002, saat dunia *tenis kursi roda* di Indonesia mulai berkembang, Agus dan Kusnan berlatih di suatu lapangan tenis di Jakarta Selatan. Dengan instruksi yang tepat, Agus yang baru pertama kali menjalani olahraga ini, ternyata dapat belajar dengan cepat. Dia mulai merasa senang dan bersemangat ketika menyadari bahwa ia bisa menjalani olahraga ini.
Semangat Agus menarik perhatian Charles Rampen, seorang pelatih dari PB Pelti yang mengamati latihan mereka. Charles memiliki hubungan baik dengan Kusnan dan berpengalaman dalam melatih di bidang ini meski bukan penyandang disabilitas. Pada tahun 1994, Charles diangkat sebagai pelatih tenis kursi roda di Indonesia. Setelah belajar dan beradaptasi dengan kursi roda, dia menjadi pelatih handal yang ingin membagikan ilmunya kepada Agus.
Setelah beberapa kali berlatih di bawah supervisi Charles, Agus dihadapkan pada tantangan besar. Dia bertanya kepada saya, 'Kamu mau setengah-setengah di tenis atau ingin profesional?' Saya menjawab, profesional, kenang Agus. Charles kemudian berinisiatif meminta izin kepada orang tua Agus agar ia tinggal bersamanya di Depok, demi fokus berlatih.
Kehidupan baru Agus dimulai, dan ia harus membiasakan diri dengan disiplin yang ketat. Setiap hari, Agus bangun pukul 04.00 WIB dan menjalani latihan yang intens dari pagi hingga sore. Perubahan gaya hidup tersebut bertahan hingga beberapa tahun, dengan hanya sedikit waktu istirahat selama liburan. Semua biaya ditanggung Pak Charlie, ujarnya, mengingat masa-masa itu.
Keringat dan rasa sakit selama latihan tidak sia-sia. Pada tahun 2004, Agus berhasil meraih juara dalam turnamen nasional untuk kelas junior, meski menggunakan kursi roda pinjaman. Kesuksesan tersebut memberikan semangat baru bagi Agus untuk berkomitmen pada olahraga ini. Setahun berikutnya, ia dipanggil untuk bergabung dalam pemusatan latihan nasional.
Dari saat itu, Agus terpilih untuk mewakili Indonesia di ASEAN Para Games 2005 di Filipina, di mana ia meraih medali perunggu. Momen tersebut sangat mengharukan, dan Agus mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Charles, yang telah begitu berperan dalam hidupnya.
Sayangnya, pada tahun 2010, Charles Rampen meninggal dunia, meninggalkan kesedihan mendalam bagi Agus. Namun, kenangan tentang Charles menjadi motivasi untuk terus berprestasi. Agus berpartisipasi dalam berbagai kompetisi, antara lain empat Peparnas dan beberapa edisi ASEAN Para Games, di mana ia mengumpulkan banyak medali, termasuk lima medali emas.
Agus juga turut berlaga dalam Asian Para Games, memperkaya pengalamannya di kancah internasional. Pada tahun 2018, ia mencapai peringkat 126 dalam kategori tunggal putra *tenis kursi roda* di tingkat dunia. Kalau Pak Charlie melihat saya sekarang, dia mungkin tersenyum. Tetapi, saya masih memiliki satu mimpi yaitu tampil di Paralimpiade, ungkap Agus, yang kini bersiap untuk bertanding di Peparnas 2024 di Solo.
Di usianya yang menginjak 39 tahun, Agus tidak ingin menyerah pada cita-citanya. Ia meyakini bahwa setiap individu, terlepas dari status disabilitas, memiliki potensi untuk meraih prestasi. Menurutnya, dukungan dari orang terdekat sangat penting, terutama dari keluarga.
Agus mengajak orang tua untuk lebih terbuka terhadap anak-anak yang memiliki disabilitas. Mereka perlu memahami potensi anak-anak mereka dan memberikan dorongan untuk berkumpul dalam komunitas yang positif. Penting bagi orang tua untuk memberikan motivasi dan mengarahkan anak-anak mereka, ujar Agus.
Dalam berbagi pengalamannya, Agus mengingat pesan dari Charles, bahwa hasil bukanlah yang utama; kerja keras akan membawa pencapaian seiring berjalannya waktu. Pesan ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo kepada para atlet Peparnas 2021, bahwa tantangan bukanlah hambatan untuk mencapai kesuksesan, melainkan konsistensi yang menjadi kunci utama.
ANTARA
Agus Fitriadi, Perjuangan dan Prestasi Pasca Amputasi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Wakil Bupati Gumas Ajak Kawal Investasi untuk Kesejahteraan dan Keadilan Masyarakat
Janice Tjen dan Storm Hunter Juara Ganda Putri Japan Open 2026
Pekab Gumas Bagikan Bantuan Bibit Cabai hingga Tomat untuk Masyarakat
Dua Gol Nicolas Jackson bawa Aston Villa Tekuk Man City 2-1
Ikut Manugal, Wakil Bupati Gumas Ajak Masyarakat Manfaatkan Lahan
Dortmund Puncaki Klasemen setelah Kalahkan Frankfurt 1-0
Komentar (0)
Memuat komentar…







