MANOKWARI –
**Borneonews - Manokwari**, Anggaran dana desa yang mencapai Rp26 miliar di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, telah dialokasikan untuk mendukung proyek ketahanan pangan di setiap desa atau kampung. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Manokwari, Jeffry Sahuburua, menyatakan pada hari Minggu bahwa total anggaran dana desa untuk tahun ini adalah sebesar Rp130 miliar, yang ditujukan untuk 163 kampung di wilayah Manokwari. Setiap kampung diwajibkan untuk mengalokasikan 20 persen dari dana desa mereka untuk ketahanan pangan, yang secara kolektif berarti Rp23 miliar untuk seluruh Kabupaten Manokwari. Jeffry menekankan pentingnya alokasi tersebut, yang tidak hanya terbatas pada pertanian, tetapi juga mencakup peternakan. Dia menambahkan, seluruh kampung di Manokwari harus memanfaatkan dana desa semaksimal mungkin, terutama dalam mengembangkan potensi pertanian atau peternakan, guna menjaga ketahanan pangan di masing-masing wilayah. Menurutnya, anggaran yang tersedia bagi kampung saat ini jauh lebih signifikan dibandingkan dengan dana yang diturunkan oleh pemerintah distrik atau kecamatan, sehingga menjadi peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah tersebut. Menurut Jeffry, peranan utama dalam menjaga ketahanan pangan tidak terletak pada dinas-dinas di tingkat Pemkab Manokwari, tetapi justru pada kampung-kampung itu sendiri. Dinas atau organisasi perangkat daerah (OPD) bertugas sebagai koordinator yang memfasilitasi agar setiap kampung dapat menjalankan fungsi mereka dengan baik dalam hal ketahanan pangan. Ia menjelaskan bahwa langkah yang diambil oleh DPMK untuk mendorong ketahanan pangan adalah dengan menyediakan petugas pendamping di setiap kampung. Dengan kehadiran pendamping ini, diharapkan aparat kampung dapat lebih efektif dalam menggerakkan partisipasi masyarakat. Jeffry menekankan akan pentingnya kolaborasi dan kerja sama antara pemerintah kampung dengan pendamping kampung. Dia menyadari adanya tantangan besar, yaitu perubahan pola pikir masyarakat yang masih banyak menganut metode pertanian tradisional. Sebagian petani, khususnya yang berasal dari orang asli Papua (OAP), masih menggunakan teknik bertani yang konvensional, seperti sekadar menabur benih tanpa melakukan pengolahan lahan yang tepat. Hal ini, menurut Jeffry, mengakibatkan ketahanan pangan di kampung tersebut tidak dapat terjaga dengan optimal. Maka dari itu, ia berpendapat bahwa pandangan ini perlu dirubah agar ketahanan pangan dapat ditingkatkan ke depannya. ANTARA