BORNEONEWS, Tamiang Layang - Setiap tahun, menjelang malam pergantian tahun, ada satu momen yang selalu ditunggu oleh banyak orang, pesta kembang api, petasan, dan tentunya, acara bakar jagung bersama keluarga dan teman-teman.
Kegiatan sederhana ini telah menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat, menjadikan jagung sebagai komoditas yang laris manis.
Kebiasaan membakar jagung saat malam tahun baru memicu lonjakan permintaan jagung manis di pasar-pasar tradisional. Warga biasanya berlomba-lomba membeli jagung segar, berusaha mendapatkan yang terbaik dengan harga yang lebih murah sebelum malam perayaan tiba.
Dalam situasi ini, Karso (33), petani asal Desa Matarah, Kabupaten Barito Timur ini melihat peluang besar yang bisa memberikan keuntungan tambahan bagi dirinya dan rekan-rekannya.
Karso bersama empat temannya mengambil langkah strategis memanfaatkan waktu dua bulan lebih sebelum tahun baru dan menghidupkan lahan tidur di desanya.
Mereka memutuskan untuk menanam jagung manis di lahan seluas satu hektare, dengan target panen tepat menjelang akhir tahun.
"Kami mulai menanam jagung sekarang karena targetnya mulai panen setelah umur 75 hari, atau mendekati tahun baru," ungkap Karso saat ditemui pada Minggu, 6 Oktober 2024.
Karso dan rekan-rekannya memahami betul potensi besar dari momen ini. Dengan permintaan jagung yang terus meningkat menjelang pergantian tahun, mereka berharap bisa menghasilkan panen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Barito Timur, bahkan ke kabupaten-kabupaten tetangga.
Perhitungan Karso sangat realistis, dari lahan seluas satu hektare tersebut, mereka bisa menanam sekitar 35.000 pohon jagung.
"Kami berharap panen kali ini bisa memenuhi permintaan jagung untuk tahun baru," ujarnya dengan penuh semangat.
Menariknya, usaha pertanian ini dijalankan secara kolektif. Karso dan teman-temannya tidak hanya berbagi tenaga dalam mengolah lahan, tetapi juga berbagi modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini. "Modal kami tanggung bersama, dan hasil panennya nanti juga akan kami bagi rata," kata Karso.
Mereka sadar, usaha pertanian bukanlah sesuatu yang mudah. Selain modal, tenaga dan waktu, ada faktor cuaca dan ketidakpastian lainnya yang selalu membayangi. Namun, dengan kebersamaan dan kerjasama yang solid, mereka yakin akan mampu melewati tantangan yang ada. Apalagi, bagi mereka yang tinggal di desa, pertanian adalah sumber penghidupan yang tak pernah berhenti memberikan harapan.
Di balik cerita sederhana tentang penanaman jagung ini, ada hal lain yang lebih dalam yaitu pemanfaatan lahan tidur yang selama ini terlantar. Karso melihatnya sebagai kesempatan untuk memberikan penghidupan lebih baik bagi dirinya dan teman-temannya.
“Harapan kami sebagai petani, dari memanfaatkan lahan tidur bisa memberikan penghasilan tambahan dan memenuhi kebutuhan masyarakat Barito Timur," ungkapnya.
--page
Pemanfaatan lahan tidur menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian di daerah pedesaan. Tidak hanya memberikan penghasilan bagi petani, tetapi juga membantu menggerakkan roda ekonomi lokal. Apalagi, ketika jagung manis hasil panen ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di momen-momen spesial seperti perayaan tahun baru, dampaknya akan terasa lebih luas.
Meski panen masih menunggu beberapa bulan lagi, Karso dan teman-temannya tak mau berpangku tangan. Setiap hari, mereka bekerja menyiapkan lahan untuk memastikan setiap pohon jagung akan tumbuh subur dan siap dipanen pada waktunya.
“Kalau panen kali ini sukses, kami berencana untuk melanjutkan usaha ini dan bahkan memperluas lahan yang ditanami,” kata Karso. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









