JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Teni Widuriyanti, menegaskan bahwa perempuan di Indonesia memerlukan perhatian lebih karena masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Dalam sebuah acara yang diselenggarakan secara virtual, bertajuk Road to Sustainable Annual Conference (SAC) 2024: SDGs Festival for Women, Teni menyebutkan pentingnya peran perempuan dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, meskipun topik ini mungkin terlihat sepele, kenyataannya sangat kompleks dan membutuhkan perhatian serius. “Perempuan di Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan yang perlu mendapat perhatian mendalam,” ujarnya. Merujuk pada laporan *Gender Snapshot 2024* yang diterbitkan oleh United Nations (UN) Women, Teni menyampaikan bahwa dibutuhkan waktu sekitar 137 tahun untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem di kalangan perempuan. Lebih lanjut, diperkirakan bahwa akibat perubahan iklim yang akan terjadi pada tahun 2050, akan ada sekitar 158 juta perempuan dan anak perempuan yang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem. “Angka ini menunjukkan 16 juta lebih banyak dibandingkan dengan lelaki, sehingga perempuan lebih cepat terpengaruh oleh perubahan ini,” tambahnya. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kesetaraan gender menjadi salah satu aspek yang harus dijaga dan diperhatikan untuk mengatasi tantangan sosial dan ekonomi yang ada. Dalam konteks tersebut, Teni menyampaikan rasa terima kasih kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, yang telah memberikan kepercayaan kepada perempuan untuk menduduki posisi eselon I, dengan komposisi yang hampir seimbang dengan laki-laki. “Kolaborasi ini menunjukkan bukti bahwa kita dapat memberikan masukan secara setara dan dengan kualitas yang lebih baik. Semoga Bappenas dapat menjadi contoh bagi instansi lainnya,” ungkap Teni. Namun, secara keseluruhan, partisipasi perempuan dalam posisi kepemimpinan, baik nasional maupun lokal, masih berada di bawah 30 persen. Kehadiran perempuan dalam posisi tersebut sangat penting, karena sering kali mereka membawa perspektif unik dan berbeda dibandingkan laki-laki. Di sektor informal pun, perempuan sering kali menerima upah yang lebih rendah dibandingkan rekan pria mereka. Hal ini menambah tantangan dalam penciptaan pemberdayaan ekonomi yang lebih setara dan berkelanjutan di Indonesia. “Maka dari itu, tema acara ini ‘Pemberdayaan Perempuan di Tempat Kerja, Komunitas, dan Lingkungan Gaya Hidup Berkelanjutan dalam Mendukung Ekonomi Hijau’ menjadi sangat relevan. Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong ekonomi inklusif, khususnya dalam pengembangan ekonomi hijau,” terang Teni. Ia menekankan pentingnya kontributor perempuan di berbagai sektor untuk membawa perubahan positif dalam pembangunan yang lebih setara, yang berkaitan erat dengan pendidikan, teknologi, dan sumber daya. Dengan langkah ini, diharapkan pembangunan ke depan dapat lebih optimal. ANTARA