JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Calon Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengemukakan pendapatnya mengenai efektivitas pemasangan kamera pengawas atau *CCTV* di lingkungan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) dalam menurunkan angka kasus narkoba di ibukota. Menurutnya, dengan adanya sistem pengawasan ini, masyarakat akan merasa lebih aman dari berbagai bentuk kejahatan, termasuk *bullying*, kekerasan, dan pencurian. Pramono menjelaskan bahwa ide untuk memasang *CCTV* berawal dari pengamatan yang ia lakukan selama kampanye, ketika berinteraksi langsung dengan warga. Dia mengutarakan bahwa banyak negara maju telah menerapkan langkah serupa di tingkat komunitas paling kecil, seperti RT dan RW, untuk meningkatkan keamanan. "Dalam konteks ini, Jakarta sebagai kota yang dinamis dan berstatus global, tentu perlu mengikuti jejak langkah negara-negara besar lainnya dalam hal ini," ungkapnya. Pramono meyakini bahwa dengan pengawasan yang lebih ketat di lingkungan RT dan RW, banyak kasus narkoba dapat diminimalkan, dan ini akan membawa dampak positif bagi masyarakat. Selain itu, ia juga berkomitmen untuk meningkatkan insentif bagi pengurus RT dan RW hingga dua kali lipat. Hal ini diharapkan mampu membuat proses pelaporan dan pertanggungjawaban menjadi lebih mudah dan praktis. Debat perdana para calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2024 berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat. Tema yang diangkat pada malam itu adalah "Penguatan SDM dan Transformasi Jakarta menjadi Kota Global." Dalam debat tersebut, tiga pasangan calon yang turut berpartisipasi adalah Ridwan Kamil-Suswono (nomor urut 1), Dharma Pongrekun-Kun Wardana (nomor urut 2), dan Pramono Anung-Rano Karno (nomor urut 3). Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta juga telah menjadwalkan dua debat lanjutan yakni pada 27 Oktober dan 17 November. Debat ini dihadiri oleh tujuh pakar dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Gun Gun Heryanto, Beky Mardani, R. Siti Zuhro, Nurliah Nurdin, Didik Suhariyanto, Ahsanul Minan, dan Andhyta Firselly Utami, yang masing-masing memberikan perspektifnya dalam diskusi yang berlangsung. ANTARA