BORNEONEWS, Palangka Raya – Jumlah uang koin yang dikumpulkan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah, cukup fantastis. Dalam sehari, terkumpul Rp93 juta uang yang dianggap receh oleh masyarakat. Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu (20/8/2016) di halaman Kantor BI Kalteng jalan Diponegoro Palangka Raya.
Jumlah masyarakat yang menukar uang receh itu pun di luar perkiraan. Bahkan bisa dibilang membludak. Berkaca di daerah lain, kata Kepala Perwakilan (Kpw) BI Kalteng Muhammad Nur, hanya berkisar 100-200 orang, namun ternyata di Kalteng mencapai 701 orang.
Pantauan Borneonews, banyak warga berdesakan antre mengambil nomor urut sejak dibuka pukul 08.00 pagi hari. Sebagian ada yang berangsur mengurungkan niatnya karena saking banyaknya antrean, lalu memilih menyaksikan hiburan yang disediakan BI di atas panggung, mencicipi makanan mitra binaan BI, atau melihat lomba panjat pinang di halaman BI.
“Alhamdulillah, kegiatan Sabtu kemarin akhirnya jadi sampai pukul 15.00 WIB. Karena Jumlah penukar uang koin sampai 701 orang, dengan total nominal yang terkumpul mencapai Rp93 juta lebih,” ungkap M Nur kepada Borneonews, Minggu (22/8/2016) sore.
Sedianya sesuai jadwal, pihak BI hanya membatasi penukaran koin receh dalam rangka “Gerakan Peduli Koin” itu hingga pukul 12.00 WIB saja. Namun karena antusiasme masyarakat begitu besar, Pihak BI memberikan tambahan waktu agar tidak mengecewakan masyarakat yang sudah rela datang.
Nur menjelaskan, kegiatan tersebut dalam rangka mendukung penggunaan uang logam pada masyarakat yang saat ini menurun sekali. Orang kebanyakn enggan menggunakan sebagai alat transaksi melainkan hanya banyak disimpan saja di rumah.
“Gerakan peduli koin ini guna memfasilitasi penukaran uang logam bagi masyarakat. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Gerakan Peduli Koin Nasional yang dilakukan BI sejak Juli 2010. Kita ingin dorong budaya masyarakat dalam mengoptimalkan penggunaan uang logam untuk transaksi, termasuk kepada pedagang ritel. Kenapa? karena biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi uang logam cukup tinggi,” bebernya.
Sebelumnya, Deputi Perwakilan BI Kalteng Bidang Ekonomi dan Moneter Setian mengatakan, keengganan masyarakat menggunakan uang koin berpotensi menjadi kendala perekonomian karena cenderung menyumbang inflasi. Sebab pedagang akhirnya cenderung membulatkan ke atas nilai barang yang dijual dengan alasan sulit mencari uang kembalian. (ROZIKIN/m)








