PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS Palangka Raya - Kota Palangka Raya tengah dilanda rentetan kebakaran yang mengkhawatirkan. Data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmat) Palangka Raya mencatat, dari 1 Januari hingga Senin 7 Oktober 2024, telah terjadi 72 kasus kebakaran. Kebakaran rumah menjadi yang paling banyak terjadi, mencapai 31 kasus.

Kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Beruntung, dalam 72 kasus kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.

Koordinator Call Center 112 Palangka Raya, Sucipto mengungkapkan bahwa cuaca panas dan kemarau menjadi penyebab utama tingginya kasus kebakaran rumah/bangunan.

"Dari 1 Januari hingga 7 Oktober sudah ada 72 kejadian kebakaran, mulai dari kebakaran rumah, gedung, rumah ibadah dan gedung, jadi totalnya ada 72 kejadian," ujar Sucipto, Senin, 7 Oktober 2024.

Sucipto menjelaskan kebakaran bangunan rumah mayoritas disebabkan oleh arus pendek listrik dan kelalaian manusia.

Penggunaan kabel listrik yang tidak standar nasional Indonesia (SNI) diduga menjadi penyebab utama korsleting listrik.

Menyikapi situasi ini, Sucipto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati terhadap potensi kebakaran.

"Kalo korsleting listrik itu diduga bangunan rumah tersebut menggunakan kabel listrik yang tidak standar nasional Indonesia (SNI)," ungkapnya.

Diskarmat Palangka Raya mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam menggunakan peralatan listrik, serta memastikan instalasi listrik di rumah sudah sesuai standar.

"Masyarakat juga diimbau untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah dari sampah dan material mudah terbakar," pungkasnya. (PATHUR/R)