JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menekankan bahwa memiliki data berdasarkan kelompok umur adalah suatu keharusan untuk melaksanakan program *makan bergizi gratis* dengan lebih efektif dan efisien. Deputi Bidang Kependudukan BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menjelaskan bahwa data kependudukan yang terperinci dapat memberikan wawasan mengenai jumlah anak dalam rentang usia tertentu, mulai dari 0 hingga 2 tahun, 3 hingga 5 tahun, serta siswa dari tingkat SD hingga SMA. Informasi ini akan sangat membantu pihak Badan Gizi Nasional dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Kekuatan data dalam mendukung berbagai program pemerintah sangat penting agar setiap inisiatif dapat dilaksanakan dengan baik. Menurut Ichtiarto, tanpa adanya data yang jelas, pelaksanaan program akan sulit untuk dilakukan secara efektif, dan hasil yang diperoleh juga tidak akan akurat. Data yang tersedia dalam laporan kependudukan tidak hanya bermanfaat bagi BKKBN, tetapi juga untuk kementerian dan lembaga lainnya, termasuk pemerintah daerah, dalam pelaksanaan program-program pendukung. Dwi Listyawardani, Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama BKKBN, menambahkan bahwa program *makan bergizi gratis* yang dipromosikan oleh Badan Gizi Nasional bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Dia menekankan pentingnya makanan bergizi bagi kelompok-kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, yang merupakan bagian vital untuk meningkatkan kualitas hidup dan daya belajar generasi muda. Sebagai langkah konkret, Sekretaris Tim V Pelaksana Uji Coba *Makan Bergizi Gratis* dari Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Nevy Dwi Soesanto, mengungkapkan bahwa program ini sedang diuji coba di 316 sekolah di enam kota dan satu kabupaten. Uji coba ini melibatkan total 134.959 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD dan SMP. Enam lokasi yang terpilih untuk pelaksanaan uji coba termasuk Kota Surakarta, Salatiga, dan Kabupaten Kudus, di mana pelaksanaan di Kabupaten Kudus sendiri melibatkan empat sekolah dengan total 2.599 pelajar. Kegiatan ini diadakan untuk mengevaluasi keefektifan program dan merancang langkah-langkah selanjutnya dalam upaya memperbaiki gizi serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan. ANTARA