**Borneonews - London**, Dalam satu tahun terakhir, situasi di Jalur Gaza telah menyaksikan banyak kengerian, terutama bagi mereka yang selamat dari serangan Israel. Berita menyedihkan mengenai anak-anak Palestina yang terbunuh, terluka, dan terjebak dalam kondisi yang sangat memprihatinkan menjadi hal yang rutin kita dengar.
Untuk meringankan beban dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya di Gaza, banyak tenaga medis internasional, termasuk salah satunya Dr. John Kahler, berkunjung ke wilayah tersebut. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di berbagai zona konflik, Kahler dan rekan-rekannya dari organisasi kemanusiaan MedGlobal memberikan bantuan medis langsung kepada para korban.
Sebelum tiba di Gaza, Dr. Kahler mengira bahwa dia telah menyaksikan semua bentuk kekejaman yang ada di dunia. Namun setelah menjalani beberapa penugasan di Gaza, keyakinannya tersebut runtuh. Saya sudah pernah berada di banyak tempat sulit seperti Haiti setelah bencana alam, Yaman saat wabah kolera, maupun Aleppo ketika dalam pengepungan. Namun ketika saya melihat langsung kondisi di Gaza, saya menyadari saya belum pernah melihat yang terburuk, ungkapnya.
Kahler pertama kali mengunjungi Gaza pada tahun 2019 untuk membantu mendirikan bangsal anak di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Ketika ia kembali pada Januari 2024, ia kaget dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Sekitar 1,2 juta pengungsi terlihat berdesakan di Rafah, sebuah kota kecil di dekat perbatasan Mesir, tanpa akses ke air bersih atau listrik.
Ia menggambarkan pengalaman berkendara di malam hari melewati anak-anak dan wanita sebagai momen yang sangat surealis, seakan-akan berada dalam film pasca-apokaliptik. Ketika Kahler kembali ke Gaza pada Maret 2024, jumlah pengungsi di Rafah telah meningkat menjadi 1,6 juta, dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi.
Kondisi infrastruktur yang hancur membuatnya sulit mengenali tempat-tempat yang dulu dikenalnya. Ada jalan indah yang dulu membentang di sepanjang pantai, kini hancur berantakan. Saat kami tiba di rumah sakit, saya bertanya kapan kami akan melewati kampus universitas. Dia menjawab bahwa kami sudah melewatinya. Universitas yang dulu ada kini telah rata dengan tanah, jelasnya.
Selama di Rafah, Kahler dan tim MedGlobal membuka klinik darurat yang menangani hingga 700 pasien setiap hari antara serangan udara yang tak henti-hentinya. Di pusat kesehatan primer, mereka harus mengobati luka pasien, khususnya anak-anak, tanpa anestesi, yang menyebabkan tangisan dan jeritan mengisi ruang tersebut sepanjang hari.
Kondisi kesehatan anak-anak sangat memprihatinkan, dengan banyak yang menderita hepatitis A, yang dapat berakibat fatal. Dr. Kahler juga mencatat bahwa sistem sanitasi dan layanan kesehatan yang runtuh di Gaza semakin parah dengan munculnya virus polio yang baru, dan inisiatif vaksinasi yang dipimpin oleh WHO menjadi semakin penting.
Situasi di Gaza juga menyentuh masalah yang lebih luas, di mana Kahler menggambarkan bahwa banyak wanita hamil yang terpaksa mengungsi dan tidak menerima perawatan medis yang memadai. Banyak orang yang dapat diobati meninggal dunia karena tidak adanya akses terhadap dokter dan perawatan, keluhnya.
Kahler menyatakan perlunya gencatan senjata permanen agar proses pemulihan dapat dimulai dan akses kemanusiaan terbuka. Sejak dimulainya konflik satu tahun yang lalu, sekitar 96 persen dari 2 juta penduduk Gaza menghadapi ancaman kelaparan. Ia menyaksikan orang tua yang tidak mampu memberi makan anak-anak mereka dengan baik, dan masalah malnutrisi menjelma menjadi isu yang kritis.
Menurutnya, anak-anak yang mengalami kekurangan gizi sejak lahir akan mengelami dampak trauma yang akan membekas sepanjang hidup mereka, baik secara fisik maupun mental. Kita mungkin dapat menyelesaikan masalah kekurangan kalori dalam enam bulan, namun ada tantangan sistemik yang lebih besar yang harus diatasi, tuturnya.
Dr. Kahler mendorong Israel untuk menghentikan kekerasan dan membebaskan tawanan yang ditahan di penjara Israel. Ia melaporkan bahwa lebih dari 41.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak dimulainya kekerasan pada 7 Oktober, dengan mayoritas merupakan wanita dan anak-anak, dan lebih dari 95.900 lainnya terluka.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan bahwa lebih dari 1.000 tenaga kesehatan di Gaza telah tewas selama konflik ini. Sementara itu, infrastruktur di Gaza masih terpuruk akibat serangan udara Israel yang terus berlanjut dan blokade yang parah.
Pemantauan oleh Pengadilan Internasional (ICJ) menunjukkan bahwa Israel dituduh melakukan genosida, dan dalam keputusan terbaru mereka, ICJ meminta Israel untuk segera mengakhiri operasi di Rafah yang masih menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina.
ANTARA
Kehidupan di Gaza Terancam, Serangan Israel Hancurkan Segalanya
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Alwi akan Evaluasi Performa Setelah Terhenti French Open
Ribuan Pesepak Bola Muda Perebutkan Piala Ketua DPD RI
Trae Young Targetkan Wizards Bersaing ke playoff NBA
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
Komentar (0)
Memuat komentar…







