BOGOR –
**Borneonews - Baduy**, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) telah melaksanakan sebuah program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan di kawasan Baduy. Kegiatan ini telah dilakukan secara berkesinambungan selama enam kali, yang dimulai pada tahun 2022 dan akan terus berlanjut hingga 2024. Menurut Dr. dr. M. Arza Putra, Sp.BTKV., Subsp.JD(K), yang menjabat sebagai Direktur Pelayanan Medis RSUI sekaligus Ketua Pelaksana Program, pihaknya berkomitmen untuk mendukung peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Program ini merupakan inisiatif berkelanjutan sebagai respons terhadap tantangan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Baduy. Program tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting, yang tercatat sebesar 24,4 persen pada tahun 2021, menjadi 14 persen pada tahun 2024. Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, pendekatan berkelanjutan menjadi sangat penting untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan. Program ini merupakan simbol kepedulian RSUI terhadap isu-isu kesehatan nasional yang memerlukan penanganan bersama. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran tentang pentingnya kesehatan, sehingga bisa membantu pemerintah dalam usaha menurunkan angka stunting di tanah air. Koordinator Lapangan Pengabdian Masyarakat RSUI, Ns. Nur Akbar, M.Kep., Sp.Kep Kom, menambahkan bahwa kurangnya asupan gizi memiliki dampak serius terhadap pertumbuhan dan kualitas hidup masyarakat Baduy, terutama anak-anak dan remaja wanita yang berpotensi menjadi ibu di masa depan. Kondisi anemia yang dialami remaja dapat berkontribusi pada risiko kesehatan yang lebih besar bagi janin pada saat kehamilan. Ia juga menjelaskan bahwa janin yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dalam 1.000 hari pertama kehidupannya berisiko mengalami masalah perkembangan yang serius, termasuk stunting. Dalam rangka menanggulangi hal tersebut, RSUI kembali hadir di Desa Cisadane, Kampung Baduy pada 4 Oktober 2024, dengan tema "Gita Tumbuh Ceria". Tema ini mengusung gerakan intervensi terpadu untuk mencegah stunting, kecacingan, dan anemia. Program Gita Tumbuh Ceria bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang serta sebagai respon terhadap tingginya angka prevalensi stunting dan kecacingan pada anak-anak, serta untuk mencegah anemia di kalangan wanita di Baduy. Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, banyak balita yang mengalami masalah berat badan dan tinggi badan yang tidak sesuai untuk usianya, dengan beberapa di antaranya sudah terdiagnosis stunting. Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan yang terjadi secara kronis pada anak balita akibat kekurangan nutrisi dalam waktu yang panjang. Penyebab utamanya adalah ketidakcukupan asupan makanan sesuai dengan usia anak. Meski dapat terdeteksi setelah lahir, gangguan ini bisa dimulai dari masa kehamilan. Anemia, di sisi lain, adalah kondisi di mana kadar hemoglobin dalam darah sangat rendah. Salah satu penyebab utama anemia adalah rendahnya asupan nutrisi, terutama zat besi, yang sangat krusial untuk produksi sel darah merah. Dalam usia remaja, anemia dapat mengganggu penyerapan nutrisi lainnya, sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Kemudian, kecacingan juga dapat menyebabkan kekurangan gizi, yang memburuk akibat keberadaan cacing di dalam usus yang menyerap nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Nur Akbar menekankan pentingnya program ini dengan harapan bahwa jika tidak ditangani secara tepat, dampak negatifnya dapat meluas tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi generasi mendatang. Program ini didanai melalui hibah Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, dengan melibatkan kerjasama antara berbagai pihak seperti pemerintah kecamatan, kepala Suku Baduy, dan Puskesmas setempat (Puskesmas Ciseumet). Tim medis RSUI melakukan pemeriksaan kesehatan dengan mendatangi rumah-rumah penduduk. Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, serta konsultasi dengan dokter. Selain itu, mereka juga memberikan obat-obatan sesuai dengan keluhan pasien, tablet zat besi untuk kaum wanita, obat cacing, dan suplemen untuk anak-anak. Dalam kegiatan ini, tim RSUI juga memberikan edukasi kesehatan yang disampaikan dalam bahasa Sunda agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Melibatkan tokoh masyarakat sebagai mediator juga diharapkan dapat membuat proses edukasi lebih efektif. Masyarakat Baduy dikenal dengan adat istiadat yang kuat, termasuk dalam hal pengobatan. Mayoritas dari mereka masih lebih memilih pengobatan tradisional dan spiritual yang melibatkan doa kepada ketua suku atau figur yang dianggap sebagai sesepuh. Dengan demikian, fasilitas kesehatan menjadi alternatif terakhir jika kondisi kesehatan mereka tidak kunjung membaik. Ardi, selaku Ketua RT di Desa Cisadane, Kampung Baduy, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kehadiran RSUI dan dukungan dari Puskesmas setempat untuk masyarakat. ANTARA