KENDARI –
**Borneonews - Kendari**, Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) Kendari telah melaksanakan pelatihan untuk 100 orang yang merupakan potensi tim SAR di wilayah tersebut. Pelatihan ini berfokus pada pertolongan di permukaan air atau yang biasa disebut *water rescue*, serta pertolongan pertama (*first aid*). Kegiatan ini direncanakan berlangsung hingga bulan Oktober 2024. Kepala Basarnas Kendari, Aminuddin P.S, saat memberikan penjelasan di Kendari, mengungkapkan bahwa tujuan dari pelatihan ini ialah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta mengenai teknik-teknik pertolongan pertama di daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini sangat penting agar mereka dapat lebih siap dan efektif dalam menghadapi situasi darurat, khususnya yang berkaitan dengan pencarian dan pertolongan di permukaan air. Aminuddin menambahkan, pelatihan ini dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 50 peserta. Salah satu kelompok akan mengikuti pelatihan yang berfokus pada *water rescue*, sedangkan kelompok lainnya akan mendapat pelatihan mengenai *first aid*. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk instansi pemerintah, organisasi kemahasiswaan, serta elemen masyarakat lokal. Pelatihan ini direncanakan berlangsung selama lima hari ke depan, sampai dengan 12 Oktober 2024. Kegiatan untuk *water rescue* akan dilakukan di Pantai Toronipa, Kabupaten Konawe, serta di kolam renang KONI Sultra untuk latihan *first aid*. Pelaksanaan teori dan praktik untuk teknik pertolongan pertama dijadwalkan berlangsung di Gedung BPMP Provinsi Sulawesi Tenggara. Direktur Bina Potensi Basarnas, Agus Haryono, berharap bahwa pelatihan ini akan menghasilkan tim SAR yang terintegrasi dan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Menurut Agus, ada empat unsur utama yang menunjang keberhasilan Operasi SAR: Basarnas sendiri sebagai penggerak utama, Pemerintah Pusat atau Daerah melalui BNPB/BPBD, TNI/Polri, dan potensi SAR yang mewakili masyarakat. Agus menekankan pentingnya sinergi antara Basarnas dan non-Basarnas agar pelatihan yang diberikan dapat menguatkan kerjasama dan solidaritas di antara keempat komponen tersebut. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalisasi jumlah korban jiwa dalam setiap insiden kecelakaan atau bencana. ANTARA