JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan signifikan pada hari Senin, terbaca lebih rendah sebesar 202 poin. Penurunan ini terjadi seiring dengan berkurangnya harapan dari para investor terkait ada kemungkinan pemotongan suku bunga *Fed Funds Rate* (FFR) oleh bank sentral AS. Pada akhir perdagangan, kurs rupiah ditutup pada level Rp15.687 per dolar AS, turun dari sebelumnya yang berada pada posisi Rp15.485 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pengetatan yang terjadi di pasar tenaga kerja AS telah berkontribusi terhadap penurunan ekspektasi investor. Proyeksi yang sebelumnya memperkirakan pemotongan FFR sebesar 75 basis poin kini direvisi menjadi hanya 50 basis poin untuk sisa tahun 2024. Pergeseran dalam ekspektasi tersebut mendorong peningkatan permintaan global terhadap dolar AS, yang secara keseluruhan mengalami penguatan. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi eksternal, seperti situasi ekonomi di AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih mempengaruhi nilai tukar rupiah. Data terbaru menunjukkan bahwa pada bulan September 2024, pasar tenaga kerja AS kembali menunjukkan pengetatan. Ini tercermin dari indikator-indikator utama, termasuk angka pengangguran dan *Non-Farm Payrolls* (NFP). Tingkat pengangguran di AS secara mengejutkan turun menjadi 4,1 persen dari sebelumnya 4,2 persen, sedangkan NFP meningkat sebesar 254 ribu, melebihi proyeksi konsensus yang hanya memperkirakan kenaikan sebesar 150 ribu. Angka NFP untuk bulan sebelumnya juga direvisi naik menjadi 159 ribu. Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah turut memberikan dampak besar terhadap pasar. Hal ini menyebabkan *Indeks Dolar AS* mencatat penguatan menuju posisi tertinggi dalam lebih dari enam pekan. Situasi ini semakin diperparah dengan pernyataan Presiden AS, Joe Biden, yang menegaskan dukungan bagi Israel dalam menargetkan fasilitas minyak Iran sebagai tanggapan atas serangan rudal Iran baru-baru ini. Kejadian tersebut berkontribusi pada kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya permintaan akan aset yang dianggap aman. Sebagai pengukuran resmi, nilai tukar di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga mencatat penurunan, dengan angka mencapai Rp15.680 per dolar AS dari sebelumnya yang berada pada Rp15.495 per dolar AS. ANTARA