SURABAYA –
**Borneonews - Probolinggo**, Pemerintah Kabupaten Probolinggo di Jawa Timur telah meluncurkan inisiatif pembentukan sekolah perempuan di enam desa dengan tujuan untuk memberdayakan perempuan melalui peningkatan kapasitas kepemimpinan dan kesadaran sosial. Langkah ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat setempat. Enam desa yang terlibat dalam program ini meliputi Desa Pendil yang berada di Kecamatan Banyuanyar, Desa Sebaung dari Kecamatan Gending, Desa Sumberanyar di Kecamatan Paiton, Desa Sumberbulu yang berada di Kecamatan Tegalsiwalan, Desa Pegalangan di Kecamatan Maron, serta Desa Alassapi, juga di Kecamatan Banyuanyar. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rigustina, menjelaskan bahwa tujuan dari program ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran kritis di kalangan perempuan, serta meningkatkan kepedulian, solidaritas, dan komitmen mereka untuk berkontribusi terhadap perubahan sosial dalam masyarakat. Melalui pendidikan yang diterima, diharapkan para perempuan dapat lebih aktif dalam mengambil peran di lingkungan mereka. Setiap desa akan memfasilitasi 25 peserta yang terdiri dari anggota kelompok pengajian, kader desa, dan ibu rumah tangga. Mereka akan mendapatkan pelatihan yang disampaikan oleh narasumber dari berbagai instansi, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Kesehatan, serta organisasi perempuan seperti Aisyiyah dan PKB Kecamatan. Rigustina menegaskan pentingnya suara perempuan dalam proses pengambilan keputusan. Ia berharap para perempuan dapat memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapat mereka, sehingga suara mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dialog masyarakat. Di samping itu, dia juga menyoroti perlunya aksi kampanye terhadap isu-isu penting, termasuk bahaya pernikahan anak di bawah umur. Menurutnya, pernikahan pada usia dini dapat memiliki konsekuensi yang merugikan, baik secara fisik maupun psikologis. Sebagai bagian dari tindak lanjut untuk program ini, akan diadakan pertemuan rutin setiap minggu di sekolah perempuan. Dalam pertemuan tersebut, peserta akan menggunakan modul-modul yang telah disiapkan untuk memaksimalkan pembelajaran. Rigustina menambahkan bahwa keberlanjutan program pendidikan di sekolah perempuan menjadi prioritas utama, agar dapat memberikan dampak nyata dalam pemberdayaan perempuan di desa-desa tersebut. Dengan adanya inisiatif sekolah perempuan ini, pihak Pemkab Probolinggo berharap dapat menciptakan forum bagi perempuan untuk tumbuh dan berkontribusi lebih besar dalam pembangunan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya edukatif, tetapi juga mampu membangun jaringan solidaritas antar perempuan, menciptakan kolaborasi yang lebih baik di Kabupaten Probolinggo. ANTARA