**Borneonews - Samarinda**, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Samarinda yang terletak di Kalimantan Timur, sedang mempersiapkan pelaksanaan program pembinaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Program ini berfokus pada pengembangan pertanian cerdas atau *smart farm*.
Kepala Lapas Narkotika Samarinda, Theo Purba, menjelaskan bahwa tujuan dari program ini adalah untuk membekali WBP dengan keterampilan bercocok tanam secara modern. Hal ini diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat. Sistem yang diterapkan dalam *smart farm* ini sudah bersifat modern, dengan memanfaatkan teknologi listrik untuk penyiraman tanaman.
Lahan seluas 38x8 meter telah dipersiapkan untuk proyek ini, dengan penanaman cabai sebagai langkah awal. Theo menyatakan, Kami berusaha mengubah cara pandang terhadap program ini dengan memfokuskan pada produk primer yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti cabai. Pemilihan tanaman cabai didasarkan pada tingginya permintaan pasar dan fluktuasi harga yang sering terjadi.
Selain mengembangkan tanaman cabai, Lapas Narkotika Samarinda juga terlibat dalam beternak bebek dan ayam petelur dalam kerangka program asimilasi warga binaan. Mengenai pakan ternak, sisa makanan yang tidak terpakai akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga program ini juga berkontribusi dalam pengurangan sampah.
Sebelumnya, Lapas telah berhasil memanen selada air dan pakcoy dari *green house* yang mereka kelola. Dalam konteks pembinaan asimilasi bagi WBP, institusi ini berorientasi pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk mendukung ketahanan pangan daerah. Theo menyadari pentingnya menyesuaikan program dengan kondisi pasar. Ia menekankan, Program yang ada sudah baik, tetapi harus tetap relevan dengan minat dan kebutuhan masyarakat.
Dalam hal pemasaran hasil pertanian dan peternakan, Lapas memanfaatkan pasar lokal serta pedagang di wilayah Samarinda Utara. Karena kapasitas produksi yang terbatas, target *market* di sekitar sini sudah mencukupi, tutup Theo.
Program *smart farm* ini sendiri didukung anggaran dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui APBD Perubahan. Theo menambahkan bahwa mulai awal November, kegiatan akan dimulai dengan penyediaan peralatan, bibit, serta bimbingan teknis mengenai cara menanam dan merawat tanaman.
Saat ini, Lapas Narkotika Samarinda telah mengelola dua *green house* yang ditanami berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, kemangi, dan selada. Melalui inisiatif *smart farm* ini, Lapas Narkotika Samarinda berharap dapat memberikan keterampilan bercocok tanam modern kepada WBP, sekaligus berkontribusi terhadap upaya menjaga ketahanan pangan di wilayah tersebut.
ANTARA
Lapas Narkotika Samarinda Kembangkan Program Smart Farm untuk WBP
Bagikan:

SAMARINDA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Jadwal Super League: Persib Hadapi Garudayaksa, Derbi Suramadu Warnai Pekan Ketujuh
Pria di Sampit Dilaporkan ke Polres Kotim atas Kasus Asusila terhadap Anak 8 Tahun
Penerbangan di Kalteng Terdampak Karhutla, Kemenhub Minta Penumpang Rutin Cek Jadwal
Kalteng Prioritas Penanganan Karhutla, BNPB: Bantuan Luar Negeri untuk Teknologi Pemadaman
Komentar (0)
Memuat komentar…







