JAKARTA –
**Borneonews - New York**, Perang yang berlangsung selama setahun di Jalur Gaza telah mengubah wilayah tersebut menjadi lautan reruntuhan dan lokasi yang menyedihkan, di mana puluhan ribu jiwa, mayoritas anak-anak, kehilangan hidup mereka. Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (*UNRWA*), Philippe Lazzarini, mengungkapkan bahwa kondisi ini telah memperparah penderitaan yang dialami oleh masyarakat di wilayah tersebut. Dalam pernyataannya melalui media sosial, Lazzarini menegaskan bahwa sudah satu tahun lebih berlalu, namun setiap harinya keluarga-keluarga di Gaza terus menghadapi kesedihan tak terperi. Pengungsian paksa, penyakit, kelaparan, dan kematian telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari bagi dua juta penduduk yang terjebak di dalam kantong yang terisolasi ini. Ia juga mencatat bahwa warga sipil di Gaza terus menanggung beban berat akibat konflik yang berkepanjangan. Lebih dari 220 anggota tim *UNRWA* dilaporkan tewas, menjadikannya sebagai jumlah kematian tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam konteks ini, Lazzarini menekankan betapa anak-anak menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak terburuk dari perang ini. Di samping kehilangan nyawa, Lazzarini menyatakan bahwa semua anak-anak yang ada di Gaza mengalami trauma mendalam. Banyak dari mereka yang membawa luka psikologis yang tak dapat terlihat, dan kemungkinan besar akan bertahan seumur hidup. Lebih dari 650.000 anak harus kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah, dan akibatnya, mereka terpaksa menghabiskan waktu mereka merunduk di antara reruntuhan dengan syak wasangka dan putus asa. Lazzarini juga memperingatkan tentang penurunan yang dramatis dalam infrastruktur penting di Gaza. Ia menyebutkan bahwa lebih dari dua pertiga bangunan *UNRWA* di wilayah tersebut telah hancur dan tidak dapat digunakan, sebagian besar dari gedung-gedung ini sebelumnya berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi di bawah naungan PBB. Kondisi di Gaza memang sangat memprihatinkan, dan komunitas internasional perlu mengambil tindakan untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh penduduk di sana. ANTARA