JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Datin Fatia Umar, membahas mengenai potensi *cofiring* sebagai solusi untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari penggunaan batu bara dalam Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah ini diharapkan dapat membantu Indonesia untuk mencapai target emisi nol bersih atau yang dikenal dengan istilah *net zero emission*. Menurut penjelasannya, penerapan *cofiring* di PLTU yang menggunakan batu bara bersama dengan biomassa merupakan alternatif strategis untuk menurunkan ketergantungan terhadap batu bara. Hal ini dilakukan dengan mengganti sebagian dari bahan bakar batu bara dengan biomassa. Dalam sebuah diskusi daring yang diadakan, Prof. Datin menjelaskan bahwa teknologi *cofiring* ini merupakan jembatan transisi menuju energi bersih sebelum akhirnya PLTU ditutup, sebagai bagian dari upaya dalam menekan emisi yang berasal dari sektor energi. Dalam konteks ini, terdapat target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 358 juta ton pada tahun 2030. Prof. Datin juga memaparkan tentang potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk *cofiring* di Indonesia. Menurut penelitian yang dilakukan, sumber biomassa ini termasuk dari Hutan Tanaman Energi (HTE) yang memiliki potensi mencapai 991 ribu ton berdasarkan data tahun 2022. Selain itu, terdapat pula berbagai material biomassa lainnya, seperti 2,4 juta ton serbuk gergaji, 789 ribu ton serpihan kayu, 12,8 juta ton cangkang sawit, 10 juta ton sekam padi, 47,1 juta ton tandan buah kosong, dan 68,5 juta ton sampah rumah tangga. Dalam upayanya untuk mengembangkan teknologi *cofiring*, Prof. Datin dan timnya di BRIN telah melakukan penelitian untuk mengatasi tantangan yang dihadapi, salah satunya adalah fenomena *slagging/fouling*. Fenomena ini terjadi ketika partikel abu menempel pada permukaan *boiler*, yang dapat mengganggu proses pembakaran. Salah satu solusi yang sedang diteliti adalah dengan melakukan proses pencucian biomassa dan penambahan mineral. Ia berharap bahwa setelah tantangan ini berhasil diatasi, penerapan teknologi *cofiring* bisa semakin meluas. Saat ini, baru sekitar 5 persen dari PLTU yang ada menerapkan teknologi ini. “Mudah-mudahan, ke depan, lebih banyak PLTU yang dapat menggantikan sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa,” jelasnya. Beberapa PLTU di Indonesia telah mulai menerapkan *cofiring* dengan biomassa sebagai langkah untuk mengurangi penggunaan batu bara. Data dari PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2023, 46 dari 52 PLTU yang dikelola oleh PLN Grup telah berhasil mengimplementasikan program tersebut. ANTARA