SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk meragukan gelar doktor yang diperoleh oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Gelar yang diterima AHY ini adalah hasil dari proses akademis yang telah melalui penilaian ketat di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Emil menjelaskan bahwa *paper* yang diajukan untuk memperoleh gelar doktor tersebut telah di-*review* oleh para akademisi tanpa adanya bias mengenai identitas penulis. Proses evaluasi yang dilakukan menunjukkan tingkat objektivitas yang tinggi, terutama karena *paper* tersebut diterbitkan dalam jurnal internasional. "Ini yang membuat saya yakin, pihak Unair tidak ragu memberikan gelar doktor dengan predikat *cumlaude*," ujarnya saat konferensi pers di Surabaya. Kualitas suatu artikel yang diusulkan untuk dimuat di jurnal ilmiah harus memenuhi standar tinggi. Emil juga menekankan bahwa pilar-pilar akademis yang mendukung program doktor yang diambil oleh AHY adalah sangat kuat dan solid. "Saya yakin tidak akan ada yang meragukan kualitas dari program doktor yang telah dijalani. Ini adalah kabar yang sangat baik bagi kami. Pertama, saya sangat bangga dengan Mas AHY. Kedua, ini juga menunjukkan bahwa Universitas Airlangga memiliki standar pendidikan yang tinggi. Ini adalah kebanggaan bagi Pacitan, Jawa Timur, dan Indonesia secara keseluruhan," tambahnya. Agus Harimurti Yudhoyono secara resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil menyelesaikan Sidang Terbuka di Unair pada hari Senin, 7 Oktober. Dalam ujian terbuka tersebut, AHY mempresentasikan orasi ilmiah yang bertajuk "Kepemimpinan Transformasional dan Orkestrasi Sumber Daya Manusia Menuju Indonesia Emas 2045." Orasi ini disampaikan di hadapan sejumlah tamu penting, termasuk Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, beserta istri Annisa Pohan dan adik AHY, Edhie Baskoro Yudhoyono yang hadir beserta pasangan mereka. Dalam orasi ilmiahnya, AHY menguji sejumlah teori dan melakukan penelitian yang mengarah pada kesimpulan bahwa untuk percepatan kemajuan ekonomi Indonesia, diperlukan seorang pemimpin yang bersifat transformasional atau *transformational leader*. Ia juga menekankan perlunya pemimpin yang mampu mengorkestrasi sumber daya manusia agar bisa mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. "Kesimpulan kedua yang kami temukan adalah adanya *mismatch* atau ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri. Terlihat jelas bahwa pendidikan tinggi di Indonesia dominan oleh program studi non-STEM," jelas AHY. Contohnya, di Kalimantan, terdapat banyak potensi dalam sektor tambang, namun jumlah perguruan tinggi yang menawarkan program studi pertambangan sangat minim. Demikian pula di Sulawesi, yang kaya akan potensi agrikultur, pendidikan tinggi di daerah tersebut tidak memiliki program studi yang cukup mendukung. "Selain itu, kegiatan R&D di Indonesia masih sangat minim, dan banyak penelitian yang dihasilkan kurang sejalan dengan prioritas kebutuhan penelitian nasional yang mendukung perkembangan ekonomi," katanya menambahkan. ANTARA