**Borneonews - Jakarta**, Perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan memiliki potensi untuk pengembangan tanaman pangan yang luas, mencapai sekitar 1 hingga 1,5 juta hektar setiap tahunnya. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, yang menyatakan bahwa sektor kelapa sawit tidak hanya menghasilkan minyak sawit sebagai komoditas utama, tetapi juga menyediakan sumber daya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk menanam jenis tanaman lain, baik untuk pangan maupun energi terbarukan.
Kacuk menjelaskan bahwa tantangan bagi Indonesia dalam mencapai kemandirian pangan dan energi di masa depan sangat besar. Namun, ia percaya bahwa perkebunan kelapa sawit dapat berkontribusi dalam mengatasi masalah ini tanpa harus membuka lahan baru. Terdapat potensi lahan sekitar 1 juta hektar yang berasal dari siklus peremajaan (replanting) yang tersedia setiap tahun untuk ditanami tanaman non-sawit yang dapat menghasilkan pangan atau energi terbarukan, jelasnya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini luas kebun sawit di Indonesia mencapai 16,2 juta hektar. Dengan siklus peremajaan yang berlangsung selama 25 tahun, program peremajaan tahunan dapat mencapai sekitar 648.000 hektar. Dengan perhitungan tersebut, jika lahan tidak diberakan, maka sekitar 1 juta hektar siap digunakan untuk tanaman pangan.
Potensi hasil produksi dari lahan yang digarap juga sangat menjanjikan. Misalnya, jika ditanami sorgum, hasil panen dapat mencapai 8 juta ton per tahun. Namun, jika lahan tersebut diberakan, produksi bisa meningkat menjadi 12 juta ton. Untuk tanaman singkong, potensi hasil mencapai 45 juta ton per tahun tanpa diberakan, sementara jika diberakan, hasilnya dapat melesat hingga 70 juta ton. Tanaman kedelai varietas Grobogan diperkirakan dapat menghasilkan 2,9 juta ton tanpa diberakan, dan dapat meningkat menjadi 4,5 juta ton jika diberakan. Sedangkan untuk jagung, hasil diperkirakan mencapai 8 juta ton tanpa diberakan dan 12,4 juta ton saat diberakan.
Kacuk menyoroti bahwa implementasi tanaman sela seperti sorgum, jagung, singkong, dan kedelai telah dilakukan di lahan perkebunan sawit milik PT Paya Pinang Group yang berada di Sumatera Utara. Namun, ia menyatakan ada satu masalah kunci yang perlu dibahas, yaitu mengenai *off-taker*. Artinya, siapa yang akan membeli hasil panen tanaman sela tersebut.
Untuk mengatasi tantangan ini, Kacuk mengusulkan agar pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk menyerap hasil panen dari tanaman tersebut. Apabila tidak ada pihak yang bersedia menjadi *off-taker*, Kacuk menyarankan agar hasil panen diserap untuk kebutuhan masyarakat sekitar kebun saja. Menurutnya, langkah tersebut akan membantu memastikan ketahanan dan kemandirian pangan bagi masyarakat setempat, sekaligus memberikan harga yang terjangkau karena biaya logistik yang lebih rendah serta mendukung kegiatan ekonomi lokal.
Dengan strategi ini, ia percaya bahwa penerapan konsep tersebut akan menghasilkan dampak positif yang signifikan, terutama dalam meningkatkan ketahanan ekonomi di pedesaan. "Optimasi lahan perkebunan sawit sangat penting untuk mendorong kemandirian pangan di Indonesia, sehingga tidak perlu membuka lahan baru, tutup Kacuk.
ANTARA
Potensi Lahan Sawit untuk Pengembangan Tanaman Pangan Besar
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Hujan Disertai Angin Kencang, Sejumlah Motor di Kantor Kecamatan Angkinang Tertimpa Pohon Tumbang
Kehadiran Siswa Rendah saat PJJ, Disdik Palangka Raya Evaluasi Pelaksanaan UAS Desember ke Januari 2027
Polisi Tangkap Terduga Pencuri Perengkat Telekomunikasi Milik Telkomsel di Kotim
RSUD dr Murjani Sampit Matangkan Persiapan Akreditasi.?
Motor Terbakar di Tengah Jalan Kampung Melayu Banjarmasin
Wali Kota Palangka Raya Tanggapi Penetapan Karhutla Kategori Sedang
Komentar (0)
Memuat komentar…







