JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, menyampaikan penekanan pada peningkatan solidaritas dan integrasi di antara negara-negara di Asia Tenggara. Hal ini dianggap sebagai salah satu pencapaian paling signifikan yang diraih ASEAN dalam dekade terakhir. Retno mengungkapkan bahwa ASEAN telah berhasil mengatasi tantangan persaingan antara kekuatan besar yang semakin intens. Melalui *ASEAN Outlook on the Indo-Pacific* (AOIP), ASEAN juga telah mendorong kolaborasi yang inklusif di kawasan, sebagaimana disampaikan dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri se-ASEAN (AMM) yang berlangsung di Vientiane, Laos. Selain itu, Retno turut menyoroti pencapaian terbentuknya Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), yang berperan penting dalam meningkatkan integrasi ekonomi kawasan dan mengakomodasi kepentingan kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam konteks pertemuan yang dilaksanakan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-44 dan ke-45 ASEAN, Retno mencatat bahwa para menteri luar negeri telah menetapkan ASEAN sebagai bagian utama dalam kebijakan luar negeri negara masing-masing. Dibutuhkan peran aktif dari semua pihak untuk menyukseskan transformasi yang diharapkan oleh organisasi tersebut. Keberhasilan masa depan ASEAN akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan organisasi ini dalam menjawab berbagai tantangan yang ada. Menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan, menunjukkan solidaritas antar negara anggota, serta terus memperkuat kapasitas institusional adalah beberapa poin penting yang harus diperhatikan, menurut Retno. Lebih lanjut, Retno memberikan apresiasi kepada para menteri luar negeri negara ASEAN lainnya atas support yang telah diberikan selama Indonesia menjalankan Keketuaan ASEAN pada tahun 2023 ini. Ia menekankan bahwa hubungan mereka bukan hanya sebatas rekan kerja, tetapi sudah seperti saudara. Retno juga menekankan pentingnya komitmen ASEAN terhadap hukum internasional, serta menghargai hak asasi manusia sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut dalam organisasi ini. Menyusul permasalahan yang tengah terjadi di Myanmar, Retno mengungkapkan bahwa Indonesia telah memimpin inisiatif untuk menggelar pertemuan dengan para pemangku kepentingan yang terkait dengan isu tersebut, termasuk juga mengadakan pertemuan untuk Utusan Khusus Myanmar di Jakarta. Dalam upaya menyelesaikan persoalan di Myanmar, dia mengajak seluruh anggota ASEAN untuk terus berupaya mendorong dialog yang inklusif dengan semua pihak terkait. Retno menekankan pentingnya dukungan internasional dalam implementasi Konsensus Lima Poin yang telah disusun. Dia juga menyoroti urgentnya tindakan ASEAN dalam menangani masalah tindak pidana perdagangan orang dan peredaran obat-obatan terlarang, yang berdampak buruk terhadap kondisi di Myanmar. Terakhir, Retno menggarisbawahi pentingnya bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Myanmar yang terus menghadapi tantangan. ANTARA