**Borneonews - Jakarta**, Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) selama periode sembilan tahun, yakni dari tahun 2015 hingga 30 September 2024, tercatat mencapai Rp1.739 triliun. Penyaluran ini berhasil menjangkau sebanyak 48 juta debitur di seluruh Indonesia.
Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, Yulius, dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil *monitoring* dan evaluasi yang telah dilakukan, sekitar 93 persen dari total dana KUR digunakan untuk modal kerja. Sementara itu, alokasi untuk investasi hanya mencapai 6 persen dan 1 persen sisanya untuk keperluan lainnya.
Sektor produksi menjadi fokus utama dalam penyaluran KUR selama satu dekade terakhir. Yulius mengungkapkan bahwa 53 persen dari responden yang menerima KUR berasal dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di sektor produksi, seperti pertanian, peternakan, dan perikanan. Ini mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah sejalan dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada sumber daya domestik.
Namun, Yulius juga menyampaikan keprihatinan terkait dengan adanya 16 persen dari 894 debitur KUR di skema mikro dan super mikro yang masih dikenakan agunan tambahan untuk pinjaman di bawah Rp100 juta. Menurutnya, hal ini tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2023, yang mengatur bahwa agunan tambahan seharusnya tidak diberlakukan pada KUR dengan plafon pinjaman sampai dengan Rp100 juta.
Berbicara mengenai kualitas debitur, Yulius menjelaskan bahwa sebagian besar pelaku UMKM yang mengajukan KUR masih menggunakan Surat Keterangan Usaha (SKU) sebagai bukti legalitas usaha mereka, dengan persentase mencapai 71,8 persen. Di sisi lain, hanya 27,3 persen debitur yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), dan sangat minim, yakni hanya 0,9 persen, yang memiliki izin produk pangan rumahan (PIRT).
Dalam hal subsidi, total realisasi pembayaran subsidi bunga KUR sejak 2015 hingga 30 September 2024 mencapai Rp163 triliun. Yulius menambahkan bahwa subsidi bunga KUR diberikan untuk meringankan beban biaya pinjaman bagi debitur, khususnya di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi akibat dampak pandemi COVID-19.
Informasi terbaru mencatat bahwa realisasi penyaluran KUR pada tahun 2024 hingga 19 September telah mencapai Rp209,84 triliun, yang setara dengan 73,85 persen dari target tahunan sebesar Rp297 triliun. Hal ini menunjukkan pencapaian yang signifikan dalam program KUR guna mendukung UMKM dan perekonomian nasional.
ANTARA
Realisasi KUR Capai Rp1.739 Triliun, 73,85 Persen dari Target 2024
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Polisi Selidiki Pesawat Asian One Air Tergelincir di Intan Jaya
Presiden Iran Akan Bahas Ekonomi, Isu Global dengan Putin
Basarnas Evakuasi Jenazah Perempuan Diduga WNA di Pantai Nyang Nyang
Veda Ega Jadi Pembalap Indonesia Pertama yang Raih Pole Position
Varrel/Wardana Terhenti di Semifinal Indonesia Masters
SKK Migas Umumkan Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura
Komentar (0)
Memuat komentar…







