JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mendorong adanya keselarasan antara sektor industri dan ekonomi hijau. Dalam menyusun dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, industrialisasi menjadi suatu keharusan demi penggerakan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan penggunaan energi dan sumber daya alam yang melimpah, serta penguatan rantai pasok yang lebih efisien. Staf Ahli Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo AA Teguh Sambodo, dalam konferensi *Sustainable Development Goals (SDGs) Annual Conference 2024* yang diselenggarakan di Jakarta, selasa lalu menekankan pentingnya memikirkan bagaimana industri dapat berkembang, sambil tetap mengedepankan prinsip-prinsip ekonomi hijau sebagai sumber pertumbuhan yang berkelanjutan. Pertumbuhan industri yang signifikan memerlukan pasokan energi yang besar. Indonesia, dengan beragam komoditas mineral dan batu bara yang melimpah, berfokus pada pengembangan sektor industri mineral, terutama nikel dan bauksit. Namun, di sisi lain, pemerintah juga berkomitmen untuk menerapkan ekonomi hijau agar dapat memenuhi berbagai target yang ditetapkan dalam SDGs. Leonardo menerangkan pentingnya menyelaraskan target industri dengan prinsip-prinsip ekonomi hijau. Diharapkan bahwa proporsi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk industri akan meningkat, sekaligus memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam tidak merugikan lingkungan, termasuk keanekaragaman hayati. Dia menggarisbawahi bahwa efisiensi energi harus sejalan dengan transisi menuju EBT, dengan mempertimbangkan semua aspek dalam sektor industri, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan limbah. Dalam memfasilitasi transformasi industri menuju ekonomi hijau, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara semua pemangku kepentingan. Ini mencakup pengembangan skema pembiayaan untuk mendukung EBT dan penciptaan industri baru yang berkelanjutan. Integrasi pendekatan berkelanjutan dengan praktik *digitalisasi* dalam konteks *Industrialisasi 4.0* tentu saja dapat menciptakan efisiensi dalam metode produksi. Leonardo menambahkan, dengan pemahaman yang lebih baik tentang rantai pasok, industri dapat mengidentifikasi titik-titik yang perlu ditingkatkan efisiensinya serta mengurangi kebutuhan bahan baku. Selain memperhatikan industri besar, ia juga menekankan bahwa industri kecil dan menengah tak boleh terabaikan dalam transisi menuju praktik berkelanjutan. Berbagai langkah yang dapat diambil termasuk memperkuat kebijakan industri yang berkelanjutan, mengembangkan standar hijau secara bertahap untuk sektor industri, serta menambah investasi dan mengakuisisi teknologi yang ramah lingkungan. Leonardo juga mengingatkan pentingnya mekanisme *traceability* menjelang pemberlakuan regulasi *European Union Deforestation Regulation* pada 1 Januari 2025, yang akan mewajibkan semua barang yang diimpor ke negara-negara Eropa memenuhi standar tertentu. Hal ini menjadi perhatian penting bagi Indonesia agar dapat memenuhi ketentuan baru tersebut. ANTARA