**Borneonews - So'e, TTS**, Penjabat Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Seperius Edison Sipa, mengungkapkan bahwa dua persen dari dana desa yang dialokasikan oleh pemerintah pusat dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah stunting di daerah tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan pentingnya alokasi dana untuk upaya penurunan angka stunting yang dinilai masih tinggi di Kabupaten TTS.
"Untuk itu, kami akan menyiapkan dua persen dari dana desa yang tersedia guna menangani masalah stunting," ucapnya saat kunjungan di Desa Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan, pada hari Selasa. Pernyataan ini merupakan respons terhadap langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah daerah dalam rangka menanggulangi masalah stunting yang marak terjadi di wilayahnya.
Data yang diperoleh dari penimbangan pada Juni 2024 menunjukkan bahwa dari 38.291 anak yang diperiksa, sebanyak 9.251 anak atau 24,2 persen mengalami stunting. Angka ini tergolong tinggi jika dibandingkan dengan data nasional. Seperius juga menyoroti bahwa terdapat peningkatan kasus stunting dari data yang diperoleh pada bulan Februari 2024, di mana persentase penderita stunting tercatat sebesar 20,4 persen, sedangkan pada bulan Juni angka tersebut meningkat menjadi 24,2 persen.
Menurutnya, untuk tahun 2025 akan disusun strategi khusus guna menurunkan angka stunting ini secara signifikan. "Setiap kepala desa akan kami undang untuk mendiskusikan isu ini. Misalnya, dengan dana desa sebesar Rp1 miliar, berarti dua persen atau setara dengan Rp200 juta akan digunakan untuk penanganan stunting," jelasnya.
Dengan anggaran sebesar Rp200 juta, ia yakin bahwa setiap desa dapat melakukan intervensi untuk mengurangi masalah stunting, misalnya dengan membeli *beras fortivit* dari Perum Bulog, yang diketahui memiliki kandungan vitamin dan gizi yang baik untuk mendukung pertumbuhan anak.
Penerapan anggaran tersebut bukanlah hal baru. Seperius memberikan contoh Desa Puna yang telah berhasil menurunkan angka stunting dan mendapatkan penghargaan dari Presiden Joko Widodo atas usaha tersebut. Desa ini juga menerapkan pola bapak asuh sebagai strategi dalam penanganan stunting, sehingga dapat mengurangi jumlah balita yang menderita stunting.
"Saya percaya bahwa pendekatan yang sama bisa diadopsi oleh desa-desa lain di TTS untuk mengatasi permasalahan ini," tandasnya.
ANTARA
Strategi Dana Desa untuk Atasi Stunting di Timor Tengah Selatan
Bagikan:

KUPANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Hujan Lebat Guyur Banjarbaru dan Martapura
Alwi akan Evaluasi Performa Setelah Terhenti French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







