**Borneonews - Jakarta**, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pengurangan risiko bencana di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Prasinta Dewi, dalam sebuah konferensi di Jakarta.
Prasinta menjelaskan bahwa mitigasi risiko bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Keterlibatan aktif dari berbagai sektor, termasuk dunia akademis, sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai lembaga penelitian dan pendidikan, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang proaktif untuk menurunkan risiko dan dampak bencana di masa depan.
Dalam acara berbagi yang mengangkat tema Peran Perguruan Tinggi dalam Pengurangan Risiko Bencana Indonesia di Universitas Syah Kuala, Aceh, Prasinta menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kunci dalam usaha pengurangan risiko bencana yang efektif.
Berdasarkan data yang dirilis oleh BNPB, sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 5.400 peristiwa bencana di Indonesia, dengan 95 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan badai. Meskipun jumlah kejadian bencana menunjukkan peningkatan sebesar 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya, berkat inovasi teknologi dan program edukasi mitigasi yang terus berkembang, kerugian dan jumlah korban jiwa dapat ditekan secara signifikan.
Prasinta juga memberikan penghargaan kepada Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB), sebuah forum tematik yang mengumpulkan Pusat Studi Kebencanaan dari berbagai universitas di seluruh Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi FPT PRB dalam memperkuat kapasitas masyarakat melalui pendekatan berbasis ilmiah telah terbukti sangat signifikan.
Dalam kesempatan tersebut, Prasinta beserta tim BNPB mengunjungi sejumlah fasilitas penelitian di Universitas Syiah Kuala, antara lain Laboratorium Earthquake Observatory Real-time serta Laboratorium Tsunami Flume Multifungsi. Kedua laboratorium ini dirancang untuk mendeteksi gempa bumi dengan segera serta menciptakan model potensi tsunami. Diharapkan, fasilitas-fasilitas ini akan menjadi tempat yang efektif untuk riset serta edukasi, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga masyarakat umum.
Laboratorium-laboratorium ini tidak hanya bertujuan untuk penelitian, melainkan juga berperan penting dalam sosialisasi dan edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan terhadap bencana, ujar Prasinta.
Dengan semakin kuatnya peran perguruan tinggi dalam pengurangan risiko bencana, Prasinta optimis bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dapat secara signifikan meminimalisasi dampak bencana di Indonesia.
ANTARA
Peran Perguruan Tinggi dalam Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Komentar (0)
Memuat komentar…







