BANGKA BELITUNG –
**Borneonews - Sungailiat**, Pemerintah Kabupaten Bangka, yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sedang giat melaksanakan inisiatif pencegahan Demam Berdarah Dengue (*DBD*) untuk menanggulangi peningkatan jumlah kasus penyakit ini yang cukup signifikan. Boy Yandra, Staf Ahli Bupati Bangka di bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, mengungkapkan di Sungailiat bahwa upaya pencegahan ini melibatkan peran aktif ketua RT yang diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (*PSN*). Beliau menekankan pentingnya memaksimalkan tindakan PSN, terutama di area yang berisiko tinggi terhadap penyebaran *DBD*. Dia mencatat bahwa dalam periode kurang dari dua bulan, kasus *DBD* telah meningkat dari 311 menjadi 339. Data tersebut menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Sebanyak 339 kasus yang terkonfirmasi tersebar di berbagai Kecamatan, dengan angka tertinggi di Kecamatan Sungailiat yang mencatat 133 kasus. Sementara itu, Kecamatan Merawang memiliki 81 kasus, di Riau Silip tercatat 36 kasus, Pemali 28, Belinyu 25, Bakam 18, dan Mendo Barat 12 kasus. Menurut Boy Yandra, dari total tersebut, ada tujuh pasien yang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit ini. Dalam upaya pencegahan yang lebih komprehensif, Boy Yandra mengusulkan agar semua pihak, termasuk masyarakat umum, organisasi kemasyarakatan, TNI, Polri, serta siswa dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), terlibat secara aktif. Siswa memiliki peran penting sebagai juru pantau jentik di sekitar tempat tinggal mereka, dan diharapkan dapat melaporkan temuannya kepada guru di sekolah. Boy Yandra mengungkapkan keyakinannya bahwa dengan melalui gerakan PSN yang terorganisir dan maksimal, angka kasus *DBD* dapat ditekan seminimal mungkin. Ia menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terdapat kasus *DBD* di lingkungan. Langkah pertama adalah melakukan PSN, diikuti dengan pengasapan atau *fogging*, serta penggunaan bubuk abate. Bubuk abate yang diperlukan dalam proses ini dapat diperoleh dari Puskesmas setempat dan akan diberikan kepada masyarakat tanpa biaya. Dengan demikian, diharapkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya dapat membantu memerangi penyebaran *DBD* secara lebih efektif. ANTARA