BENGKULU –
**Borneonews - Bengkulu**, Pemerintah Provinsi Bengkulu berkomitmen untuk memperkuat literasi digital di tengah persiapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024. Upaya ini bertujuan untuk menjaga situasi yang kondusif di wilayah tersebut. Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bengkulu, Henny Kauri, menekankan pentingnya kegiatan literasi digital untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam menggunakan serta mengakses teknologi secara bijaksana. Dalam sebuah pernyataan, Henny menyatakan, melalui inisiatif ini, masyarakat diharapkan dapat lebih berhati-hati dan cerdas dalam mencerna informasi yang berkembang, terutama menjelang ajang demokrasi yang melibatkan banyak perhatian. Dalam mendukung program ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu berkolaborasi dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan pembelajaran digital masyarakat, khususnya dalam konfrontasi informasi yang marak di era digital. Henny mencatat bahwa pada saat Pilkada, perhatian publik cenderung meningkat, dan hal tersebut tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga mendapat perhatian dari dunia internasional. Dia memperingatkan bahwa situasi yang menarik perhatian ini memiliki potensi untuk membawa dampak positif atau negatif. Dampak negatif, seperti polarisasi dan gesekan di masyarakat, dapat terjadi jika tidak ada upaya untuk menanggulangi penyebaran informasi yang tidak benar. Henny menegaskan, "Berita bohong dapat memicu polarisasi politik yang merugikan. Jika dibiarkan menyebar dengan cepat di ruang digital, hal ini bisa menimbulkan konflik di masyarakat." Oleh karena itu, pengelolaan dunia digital yang sehat menjadi sangat penting untuk menciptakan pemilihan yang aman, tertib, dan damai. Henny menekankan bahwa literasi digital yang baik dapat membantu mencegah berbagai jenis gesekan dan perpecahan. Di sisi lain, Dr. Gushevinalti, Koordinator Wilayah MAFINDO Provinsi Bengkulu yang juga merupakan akademikus di Universitas Bengkulu, menambahkan bahwa peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat sangat krusial, terutama dalam konteks penyelenggaraan demokrasi. Dia menjelaskan bahwa pemilih dalam Pilkada ini didominasi oleh generasi *Z* dan *milenial*, yang merupakan kelompok dengan proporsi lebih dari 50 persen dari total pemilih. Generasi ini, yang kental dengan interaksi di dunia digital, memiliki kemampuan tinggi dalam menguasai informasi daring. Oleh karena itu, sangat penting untuk menciptakan ruang digital yang sehat, serta memastikan masyarakat memiliki tingkat literasi digital yang memadai agar dapat berpartisipasi dengan bijak dalam proses demokrasi. ANTARA