**Borneonews - Banjarbaru**, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan bagi para jurnalis dan media untuk lebih berhati-hati dalam melaporkan informasi terkait perubahan iklim yang mengandung unsur sensitif. Hal ini disampaikan untuk menghindari kepanikan di masyarakat yang dapat timbul dari pemberitaan yang kurang tepat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Pusat, Urip Haryokodi, menjelaskan bahwa informasi seperti peringatan tentang musim panas yang berkepanjangan atau ancaman badai besar sebaiknya tidak disebarluaskan tanpa pertimbangan yang matang. Ia menegaskan pentingnya tidak hanya fokus pada sisi bencana dalam pelaporan.
Dalam suatu acara yang melibatkan Sekolah Lapang Iklim Tematik, yang berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Selatan, Urip menambahkan bahwa informasi yang tidak diverifikasi dapat menyebabkan kekhawatiran yang berlebihan dan berdampak negatif pada berbagai sektor, termasuk ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, konfirmasi dari BMKG sangat penting untuk memastikan akurasi informasi yang akan disampaikan kepada publik.
Urip juga mengingatkan agar informasi cuaca disampaikan dengan jelas dan tidak mengundang rasa ketakutan di antara masyarakat. Bahkan, meskipun berasal dari penelitian, informasi sensitif harus diperhitungkan dengan baik sebelum dibagikan melalui platform media sosial. Tujuannya adalah untuk mencegah rasa cemas yang tidak perlu dalam masyarakat.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya media massa untuk menjelaskan dengan cara yang lebih sederhana, terutama mengingat bahwa terminologi meteorologi sering kali sulit dipahami oleh orang awam. Dengan cara ini, diharapkan masyarakat bisa lebih memahami informasi perubahan iklim tanpa rasa khawatir yang tidak beralasan.
Urip juga mendorong media untuk menggali sisi positif dari fenomena cuaca dan iklim. Contohnya, saat musim kemarau, dapat ditekankan bahwa beberapa sektor pertanian, terutama padi, bisa mengalami peningkatan produktivitas. Hal ini sangat relevan di Provinsi Kalimantan Selatan, yang memiliki banyak areal sawah, terutama lahan rawa. Musim hujan yang berlebihan dapat menyebabkan banjir yang berdampak pada kegagalan panen jika tidak dikelola dengan baik.
Selain itu, saat musim hujan tiba, ada juga manfaat seperti melimpahnya cadangan air yang mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura. Di sini, penting untuk tidak hanya memberitakan tentang potensi bencana banjir, tetapi juga aspek positif yang muncul.
Urip menekankan bahwa perubahan iklim tidak selalu berkaitan dengan bencana. Bila dibandingkan dengan banyak negara di Eropa, Indonesia memiliki kondisi iklim yang relatif nyaman. Suhu di Indonesia tidak ekstrem tinggi atau rendah, dan pola cuaca hujan yang teratur membantu mencegah kekeringan jangka panjang seperti yang dialami oleh beberapa wilayah di Timur Tengah.
"Oleh karena itu, kami berharap media dapat menyoroti sisi positif dari setiap perubahan iklim, sehingga masyarakat bisa melihat bahwa dari setiap perubahan, selalu ada hal-hal baik yang dapat diambil, tutup Urip.
ANTARA
BMKG Imbau Media Berita Positif Soal Perubahan Iklim
Bagikan:

BANJARMASIN –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Komentar (0)
Memuat komentar…







