JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Guru Besar dari Institut Pertanian Bogor (IPB University) Prof. Muhammad Rizal Martua Damanik menyatakan bahwa penanganan stunting di Indonesia memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak melalui kerja sama lintas sektor. Damanik menjelaskan bahwa masalah stunting tidak bisa diselesaikan hanya oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) semata. Keberhasilan dalam langkah ini memerlukan dukungan serta keterlibatan sektor-sektor lain. Sebagai contoh, ia menyoroti pentingnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Kegiatan ini memerlukan akses terhadap air bersih, yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah kuliah umum dengan tema "Isu-Isu Kependudukan" yang berlangsung di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan di Ternate, Maluku Utara pada hari Senin, 7 Oktober. Lebih jauh, Damanik mendorong mahasiswa agar aktif dalam menciptakan inovasi guna mengatasi masalah stunting, dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Maluku Utara. Ia percaya bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam di kawasan mereka. Dia menegaskan, "Seharusnya, tidak ada lagi anak yang mengalami stunting di Provinsi Maluku Utara." Dalam pembelajaran tersebut, Damanik juga menjelaskan bahwa periode 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak adalah masa yang sangat penting atau sering disebut sebagai *golden age*. Pada fase ini, perkembangan sel-sel otak anak berlangsung sangat cepat. "Sel-sel otak yang sehat dapat menyimpan hingga tiga juta memori. Sementara itu, anak-anak yang mengalami stunting memiliki kapasitas yang jauh lebih rendah," jelas Damanik, yang juga merupakan Guru Besar di Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University. Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN, Nopian Andusti, menekankan pentingnya inovasi yang berasal dari tingkat daerah untuk mengurangi angka stunting, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan yang mencakup usia 0-2 tahun. "Untuk menangani dan menurunkan tingkat stunting, diperlukan berbagai inovasi dari pemerintah, terutama yang berada dekat dengan kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) atau posyandu, yaitu di tingkat desa atau kelurahan," ujar Nopian. Ia menambahkan bahwa desa atau kelurahan memiliki peranan yang signifikan dalam upaya penyelamatan 1.000 hari pertama kehidupan. Nopian juga menegaskan bahwa faktor penyebab stunting bersifat multidimensional, sehingga intervensi yang dilakukan selama 1.000 hari pertama kehidupan sangatlah krusial dalam menurunkan prevalensi stunting di Indonesia. ANTARA