JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menyampaikan bahwa pandangan Amerika Serikat (AS) yang menganggap Tiongkok sebagai pesaing jangka panjang mencerminkan hegemoni yang dipegang oleh AS. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas artikel yang ditulis oleh Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dalam jurnal *Foreign Policy* yang menyebut Tiongkok sebagai satu-satunya negara yang memiliki niat dan kemampuan untuk merombak sistem internasional. Mao Ning menjelaskan bahwa sudut pandang AS mengenai dinamika internasional dan definisi hubungannya dengan Tiongkok sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang terjebak dalam mentalitas Perang Dingin. Perlakuan terhadap Tiongkok sebagai pesaing strategis dalam jangka panjang tersebut merupakan cerminan dari sejarah dan cara pandang hegemonik yang dilakukan AS terhadap negara-negara lain. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Beijing, pada hari Selasa, ia menekankan pentingnya mengedepankan perspektif yang lebih sehat dan saling menghargai dalam hubungan antarnegara. Menurut Mao Ning, pernyataan yang disampaikan oleh pejabat tinggi AS tersebut bukanlah kali pertama ditujukan kepada Tiongkok dan terlihat tanpa dasar yang kuat. Ia mengungkapkan bahwa Tiongkok telah berulang kali menyatakan bahwa persaingan antar negara besar tidak dibutuhkan oleh dunia dan sama sekali tidak akan memberikan penyelesaian bagi masalah yang dihadapi oleh AS maupun tantangan global lainnya. Ia juga menambahkan bahwa penilaian yang keliru terhadap hubungan antara Tiongkok dan AS tidak akan menguntungkan kedua negara, serta tidak akan memenuhi harapan masyarakat internasional yang lebih luas. Mao Ning memaparkan bahwa selama ini, Tiongkok berperan sebagai penegak perdamaian, berkontribusi terhadap pembangunan global, dan merupakan pembela tatanan internasional yang adil. Ia menekankan bahwa fakta yang sebenarnya adalah AS-lah yang bersikap kompetitif dengan cara yang tidak adil, sering kali memperlihatkan dominasi, dan memaksakan kehendak kepada negara lain. Dalam artikel bertajuk *Strategi Pembaruan Amerika: Membangun Kembali Kepemimpinan untuk Dunia Baru*, Blinken menyatakan bahwa Presiden AS, Joe Biden, telah sejak awal menyatakan niatnya untuk memperlakukan Beijing sebagai "tantangan kecepatan" atau pesaing strategis jangka panjang yang signifikan. Blinken melanjutkan bahwa pemerintah AS berkomitmen untuk melindungi teknologi mutakhir mereka, serta membela pekerja, perusahaan, dan masyarakat AS terhadap praktik ekonomi yang dianggap tidak adil. Selain itu, ia juga mencatat peningkatan agresi Tiongkok di luar negeri dan tindakan penindasan yang terjadi di dalam negeri. Penting untuk dicatat bahwa AS juga berusaha menjalin saluran komunikasi khusus dengan sekutunya untuk mendiskusikan risiko ekonomi dan keamanan yang ditimbulkan oleh kebijakan serta tindakan Beijing. Meskipun terjalin ketegangan, Blinken menyatakan bahwa hubungan antara AS dan Tiongkok tetap berjalan dalam lingkup militer dan bahwa perbedaan pendapat yang ada tidak akan menghalangi kedua negara untuk mempertahankan hubungan perdagangan yang kuat. Sebagai penutup, Blinken menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan ketegangan dalam hubungan dengan Tiongkok menghalangi kerja sama dalam isu-isu penting yang mempengaruhi rakyat Amerika dan masyarakat global secara keseluruhan, seperti penanganan perubahan iklim, upaya menghentikan peredaran obat-obatan sintetis, serta pencegahan proliferasi nuklir. ANTARA