PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dan banjir merupakan dua bencana alam yang terjadi hampir setiap tahunnya di wilayah Palangka Raya, Apabila musim Kemarau Karhutla menghantui dan apabila musim hujan beberapa Kelurahan di Palangka Raya terendam banjir.

Berdasarkan data dari Pusdalops BPBD Palangka Raya pada 2023 Karhutla terjadi sebanyak 648 kejadian Karhutla dengan rincian sebanyak 320 kali di  kecamatan Jekan Raya, Sebangau 230 kali, Pahandut 93 kali, Bukit Batu 5 kali dan Rakumpit 0.

Dari 648 kejadian tersebut luas lahan yang terbakar akibat Karhutla seluas 811, 68 hektare, untuk diketahui luas lahan Palangka Raya 284.250 hektare.

"Karhutla di 2023 cukup parah hingga di aplikasi ISPU Net menunjukkan kualitas sangat tidak sehat atau level merah yang membuat kota terselimuti asap dan memaksa masyarakat menggunakan masker," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Palangka Raya Heri Fauzi, Rabu, 9 Oktober 2024.

Dibandingkan 2023, jumlah kejadian Karhutla di Palangka Raya hingga saat ini masih cukup kondusif dengan total 181 kejadian dengan rincian 133 kejadian di Kecamatan Jekan Raya, 26 kejadian di Sebangau, 13 kejadian di Sebangau, 9 Kejadian di Bukit Batu dan 0 Kejadian di Rakumpit.

"Untuk lahan yang terdampak akibat Karhutla di tahun 2024 sendiri sekitar 76, 11 hektare," jelas Heri

Penyebab Karhutla

1. Karena kondisi cuaca di Palangka Raya yang panas membuat lahan - lahan di Palangka Raya Kering sehingga berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

2. Indikasi sengaja di bakar oleh oknum masyarakat yang membuka lahan, ketika oknum tersebut membakar lahan api tidak di jaga dan sengaja ditinggalkan sehingga api menjalar dan menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

Jenis Lahan Terbakar Akibat Karhutla

Lahan yang terbakar di Palangka Raya merupakan lahan gambut yang kering dan banyak semak belukarnya, lokasi lahan yang terbakar pun merupakan lokasi Karhutla yang terjadi di 2023 lalu, seperti di jalan Dulin Kandang, DA Tawa, Petuk Katimpun.

Upaya Pencegahan dan Mitigasi

Tim BPBD Palangka Raya aktif melakukan patroli di Palangka Raya khususnya di lokasi rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, seperti lahan kering dan lahan kosong yang ada di Palangka Raya.

Seperti di Jalan Petuk Katimpun, Jalan Karya Hapakat hingga Tjilik Riwut Kilometer 14 yang merupakan area rawan dan sering terjadinya Karhutla di tahun 2024 ini.

Selain itu Tim juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk setop membakar hutan dan lahan yang bisa menyebabkan terjadinya Karhutla.

Pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana), di Palangka Raya sendiri sudah ada 27 Kaltana dari 30 Kelurahan.

Kaltana sendiri memiliki peran untuk melakukan mitigasi dan penanganan bencana alam dini baik bencana alam banjir maupun Karhutla di Palangka Raya.

Sementara itu Dosen Teknik Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP) Novrianti yang juga Ketua Komunitas Peduli Sungai Hari Borneo dan Ketua Komunitas Peduli Sungai UMP mengatakan dampak Karhutla di Palangka Raya masih cukup signifikan.

Salah satu dampak kerusakannya adalah kerusakan ekosistem lahan gambut yang tentunya lahan gambut berperan penting dalam menyimpan karbon.

"Kebakaran di lahan gambut melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar yang dapat mempercepat pemanasan global," jelasnya.

Selain itu kebakaran hutan juga dapat menghancurkan habitat spesies endemik seperti orang hutan yang hidup di lahan gambut, sehingga memperburuk kondisi spesies yang terancam punah.

Karhutla juga meningkatkan risiko bencana alam seperti erosi, banjir dan kekeringan karena hilangnya vegetasi hutan yang berfungsi  menjaga keseimbangan alam.

Gas beracun dan polusi yang ditimbulkan oleh Karhutla juga bisa berdampak pada kondisi kesehatan terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada masyarakat rentan.

Selain itu dampak kabut asap akibat Karhutla juga bisa menggangu jarak pandang berisiko terjadinya kecelakaan.

"Karhutla juga berdampak pada perekonomian lokal yang bergantung pada sumber daya alam," pungkasnya. (PATHUR/R)