**Borneonews - Jakarta**, Ketua Umum Perhimpunan Periset Indonesia (PPI), Syahrir Ika, mengemukakan pandangannya bahwa pengetahuan dan pemahaman dalam manajemen bisnis merupakan faktor yang sangat penting bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memastikan kelangsungan usaha, perkembangan, dan kemampuan untuk naik kelas.
Dalam diskusi bertajuk PPI Talk yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (8/10), Syahrir menjelaskan bahwa pengelolaan yang baik menjadi aspek yang harus lebih diperhatikan dibandingkan dengan hanya mengandalkan dukungan finansial. Menurutnya, suntikan dana dari berbagai sumber seperti lembaga perbankan, pemerintah, ataupun investor swasta tidak selalu menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan kelas UMKM.
Syahrir menegaskan, Akses finansial bukanlah faktor utama yang menyebabkan kegagalan UMKM untuk naik kelas. Sering kali, pinjaman yang diberikan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena dana tersebut habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pernyataan tersebut merupakan bagian dari penjelasannya yang diterima oleh media di Jakarta.
Menurut data yang tercatat, saat ini jumlah UMKM di Indonesia mencapai sekitar 65 juta, di mana 90 persen di antaranya tergolong usaha mikro. Usaha mikro didefinisikan berdasarkan batas tertinggi pinjaman yang dapat diakses dari perbankan, yaitu sebesar Rp50 juta. Menariknya, Syahrir juga menemukan bahwa dari jumlah tersebut, hingga 90 persen adalah jenis usaha ultra mikro yang memiliki batas pinjaman di bawah Rp20 juta.
"Hasil riset kami menunjukkan bahwa rata-rata pinjaman untuk usaha ultra mikro berkisar antara Rp2 juta hingga Rp5 juta. Bahkan, separuh dari rata-rata tersebut hanya membutuhkan pinjaman sebesar Rp1 juta," ia menambahkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM di Indonesia masih berada pada tingkatan usaha keluarga, di mana paradigma yang dipegang adalah hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hal ini berimplikasi pada kesulitan UMKM untuk menjadi pendorong utama perekonomian nasional.
Syahrir berpesan, "UMKM yang seharusnya berpotensi berkembang justru terjebak dalam lingkaran kemiskinan, tanpa adanya keinginan untuk memperbesar usaha mereka."
Ia menggarisbawahi pentingnya tiga faktor utama yang perlu diperhatikan, yaitu semangat kewirausahaan, pemahaman terhadap kebutuhan pasar, serta pengetahuan manajerial. Keyakinannya adalah jika usaha ultra mikro dan mikro berhasil bertransformasi menjadi usaha kecil, maka ekonominya akan lebih dinamis dengan terciptanya lapangan kerja yang lebih luas di luar lingkungan keluarga inti.
Usaha kecil, menurutnya, biasanya mampu mempekerjakan antara 3 hingga 10 orang. Stabilitas penjualan yang dimiliki usaha kecil memungkinkan mereka untuk berani merekrut pekerja dari luar keluarga, sehingga memperluas jaringan ekonomi dan memperkuat perekonomian masyarakat secara keseluruhan.
ANTARA
Pentingnya Pengetahuan Manajerial untuk Mendorong UMKM Naik Kelas
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Tolak Ajakan Berkelahi, Siswa SMP di Banjarmasin Tetap Dipaksa hingga Tersungkur
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Komentar (0)
Memuat komentar…







