JAKARTA –
**Borneonews - Gaza**, Kementerian Kesehatan di Gaza menginformasikan bahwa tentara Israel telah memerintahkan evakuasi terhadap pasien dan staf di tiga rumah sakit yang berada di wilayah utara Jalur Gaza. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan pada Selasa, 8 Oktober, kementerian menyebutkan bahwa rumah sakit yang terlibat dalam perintah evakuasi tersebut adalah Rumah Sakit Kamal Adwan, Rumah Sakit Indonesia, dan Rumah Sakit Al-Awda. Proses evakuasi ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam mengingat tingginya angka pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit-rumah sakit tersebut. Dalam insiden terpisah, pasukan Israel dilaporkan telah menangkap seorang paramedis yang sedang menuju rumah sakit untuk mendampingi pasien yang dalam kondisi kritis. Penangkapan ini dilakukan meski sebelumnya telah ada koordinasi antara pihak kesehatan dan militer. Selain itu, tentara Israel juga dilaporkan mengepung Rumah Sakit Kamal Adwan dan melakukan penembakan ke arah kantor pusat administratifnya. Kementerian Kesehatan Gaza menekankan bahwa terdapat ancaman serius terhadap institusi kesehatan apabila mereka tidak menuruti perintah evakuasi. Ancaman tersebut termasuk potensi penghancuran rumah sakit serta pembunuhan dan penangkapan terhadap staf medis. Hal ini mirip dengan keadaan Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza yang telah dikepung selama beberapa minggu. Rumah Sakit Kamal Adwan kini menghadapi kemungkinan berhenti beroperasi dalam waktu dekat akibat kekurangan bahan bakar. Pejabat kesehatan Gaza pun berupaya meminta perlindungan bagi lembaga-lembaga kesehatan dan tenaga medis yang terlibat, terutama yang berada di utara Jalur Gaza. Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, Hossam Abu Safia, melalui rekaman suara yang dibagikan kepada media mengungkapkan bahwa mereka diberikan waktu 24 jam untuk menyiapkan evakuasi pasien dan staf kesehatan. Ia menyatakan, "Tentara berkomunikasi secara langsung dan mengancam kami untuk mengevakuasi rumah sakit atau kami akan membahayakan diri sendiri." Abu Safia menambahkan bahwa tindakan Israel sangat membahayakan dan dapat menyebabkan runtuhnya sistem layanan kesehatan di kawasan tersebut. Ia juga mengekspresikan kekhawatiran tentang adanya rencana jangka panjang untuk menggusur penduduk Gaza utara melalui penggangguan terhadap layanan medis. Pada Minggu, 6 Oktober, Israel mengumumkan dimulainya operasi militer di daerah Jabalia, dengan klaim bertujuan untuk menghalangi *Hamas* dalam mengumpulkan kekuatan di daerah tersebut. Operasi militer ini dilaksanakan setelah terjadi serangan intensif di berbagai titik di tajuk barat dan timur Gaza, yang dikatakan sebagai pertempuran paling sengit antara Israel dan *Hamas* sejak bulan Mei. Menurut saksi mata, kendaraan militer Israel telah mencapai area di sekeliling Gaza barat laut. Kemudian, pada Selasa, 8 Oktober, tentara Israel mengeluarkan peringatan kepada warga Palestina untuk mengungsi dari tempat tinggal mereka di kota Jabalia dan bergerak ke selatan melewati "koridor yang aman." Namun, Kementerian Dalam Negeri Gaza memperingatkan warga untuk tidak mengikuti arahan tersebut, menyebutnya sebagai taktik penipuan. ANTARA