JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Dewan Pakar Majelis Nasional KAHMI, Mahfud MD, menegaskan bahwa organisasi yang terdiri dari alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini memberikan kebebasan kepada anggotanya dalam menentukan sikap politik. Menurutnya, meskipun ada perbedaan dalam pilihan politik, hal tersebut tidak menjadi masalah asalkan tetap terjaga kesatuan visi dalam membangun bangsa. Mahfud menyatakan bahwa KAHMI dapat memiliki pandangan politik yang berbeda-beda, karena hak untuk menentukan pilihan politik adalah suatu hal yang konstitusional. Meski demikian, mereka tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun karakter dan informasi masyarakat Indonesia. "Intinya, KAHMI bisa berbeda pilihan dalam politik tetapi tetap bersatu dalam membangun rakyat dan negara Indonesia berdasarkan nilai-nilai Islam," ungkapnya dalam seminar yang bertajuk "Rekonstruksi Kehidupan Demokrasi, Politik, Hukum, dan Keadilan dalam Cita Negara yang Merdeka dan Berdaulat," yang berlangsung di Auditorium Wisma Kemenpora, Jakarta. Lebih lanjut, Mahfud juga menanggapi pernyataan Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) yang mengatakan bahwa KAHMI tidak melihat hal-hal politik saat berkumpul dengan banyak orang dalam forum public. "Gus Mus mengatakan KAHMI tidak menggunakan kacamata politik. Misalnya, jika ada tokoh HMI dari berbagai partai yang saling bertemu dan bersalaman," katanya. Dia menjelaskan bahwa KAHMI mampu menjalin hubungan yang baik dengan beragam pihak, meskipun anggotanya berasal dari latar belakang partai yang berbeda-beda. Hal ini berbeda dengan NU yang cenderung lebih mempertimbangkan siapa yang akan berbicara di depan umum sebelum melakukan interaksi. "Kalau NU biasanya mempertanyakan siapa yang berbicara. Misalnya, jika yang tampil dari Golkar, tokoh dari PDIP atau Demokrat mungkin tidak akan mendekat. Berbeda dengan KAHMI yang tetap menjaga kedekatan meski ada perbedaan," jelas Mahfud. Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ini juga menekankan pentingnya keberlanjutan forum terbuka yang dapat memfasilitasi diskusi demi menjaga kerukunan antaranggota serta membawa idealisme Himpunan Mahasiswa Islam. Dia mendorong agar semua pihak saling mendukung dan tidak menjadikan perbedaan politik sebagai penghalang, baik di Jakarta maupun di daerah lainnya. "Selama kita berusaha memelihara hubungan yang baik, tidak perlu ada permusuhan meski ada perbedaan partai, fraksi, atau organisasi," pungkasnya. ANTARA