**Borneonews - Banda Aceh**, Kelompok wanita tani dari Gunung Kidul, Yogyakarta, serta Fetomone di Nusa Tenggara Timur, menyuguhkan inovasi dalam pengelolaan sampah yang bertujuan untuk mengatasi dampak dari bencana alam seperti kekeringan dan banjir.
Kekeringan yang mengakibatkan kegagalan panen telah menjadi masalah yang serius bagi para petani. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Gunung Kidul, Warsilah, menegaskan bahwa inovasi pengelolaan sampah yang mereka terapkan telah berhasil memberikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Hal ini disampaikan Warsilah dalam sebuah diskusi tematik pada bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berlangsung di Banda Aceh.
Warsilah menjelaskan bahwa kelompoknya telah mengembangkan sebuah inovasi yang dinamakan *Papah Mewah*, yang bertujuan untuk menangani dampak kekeringan. Inovasi ini lahir dari kebutuhan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, yang sering kali digunakan sebagai upaya untuk mencegah gagal panen. Menurutnya, setiap rumah tangga secara rata-rata memproduksi 2 kg sampah setiap harinya, sehingga pengelolaan sampah menjadi sangat krusial.
*Papah Mewah* berfungsi sebagai sistem pengelolaan sampah organik dan nonorganik. Mereka menyediakan ember tumpuk bagi 157 rumah tangga untuk mendorong masyarakat agar dapat mengelola sampah rumah tangga secara mandiri. Sampah rumah tangga yang dikelola dalam ember ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan *maggot* sebagai pakan ternak, pupuk organik padat, serta *lindi* yang bermanfaat bagi lingkungan.
Selanjutnya, untuk sampah nonorganik, kelompok ini menerapkan program sedekah sampah. Mereka memberikan karung goni kepada setiap rumah untuk mengumpulkan sampah yang kemudian akan dibawa ke lokasi tertentu untuk dikelola lebih lanjut.
Di sisi lain, Kelompok Tani Fetomone di Nusa Tenggara Timur juga telah menunjukkan keberhasilan dalam menghadapi permasalahan lahan pertanian yang kurang subur akibat lapisan pasir yang terbawa oleh banjir tahunan, melalui inovasi dalam pengelolaan sampah. Anggota kelompok, Vera Tobe, menjelaskan bahwa mereka mengimplementasikan penggunaan pupuk organik untuk memulihkan kesuburan tanah yang rusak akibat banjir.
Inovasi mereka disebut *pupuk taksi*, yang merupakan campuran kotoran hewan dan dedaunan kering, bertujuan untuk mengembalikan unsur hara yang hilang dari tanah berpasir. Vera menambahkan bahwa inovasi ini telah memberikan hasil yang positif, memungkinkan lahan yang semula tidak subur untuk kembali ditanami dan menghasilkan sayuran dengan kualitas yang baik.
Vera menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan pengembangan inovasi ini dengan menciptakan pupuk taksi dalam bentuk butiran granular. Langkah ini diambil untuk memastikan pupuk tidak mudah terbawa air saat musim hujan, sekaligus menjaga kesuburan tanah meskipun dalam kondisi banjir.
"Pupuk taksi yang kami produksi memiliki tekstur yang sangat halus, sehingga saat hujan dapat terbawa oleh air. Oleh karena itu, kami berencana untuk mengembangkan bentuk butiran yang lebih stabil dan tidak mudah terbawa air," ungkap Vera Tobe.
ANTARA
Inovasi Pengelolaan Sampah Solusi Kekeringan dan Banjir Petani
Bagikan:

BANDA ACEH –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Atletico Madrid Menang Tipis 1-0 atas Deportivo Coruna
Kapolres Seruyan Tinjau Posko Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting
Kimi Antonelli Pole Position di GP Amerika Serikat 2026
Cuaca Buruk Batalkan Balapan Moto2 dan Moto3 GP Australia
BMKG: Waspadai Peningkatan Suhu di Siang Hari saat Peralihan Musim
Jangan Nekat Buang Sampah Sembarangan! Kelurahan MB Hilir Siap Tindak Pelanggar
Komentar (0)
Memuat komentar…







