KUPANG –
**Borneonews - Kupang**, Pengamat politik dan pengajar Ilmu Komunikasi Politik serta Teori Kritis di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona, mengemukakan bahwa pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dan Presiden terpilih Prabowo Subianto bertujuan untuk menjaga stabilitas politik di tanah air. Dia menjelaskan bahwa meskipun pertemuan tersebut bisa dilihat dalam konteks simbiosis mutualisme, di mana kedua belah pihak mendapatkan keuntungan serta insentif politik, Prabowo berada dalam posisi yang lebih diuntungkan. Hal ini lantaran sebagai Presiden terpilih, Prabowo sangat memerlukan stabilitas politik untuk melaksanakan agenda-agendanya. Mikhael juga mengingatkan perihal demonstrasi menolak revisi UU Pilkada yang marak terjadi beberapa waktu lalu, yang mencerminkan kekecewaan dari mahasiswa dan masyarakat. Situasi ini menjadi sinyal bagi Prabowo agar tidak membiarkan PDIP dan Megawati terisolasi dari dunia masyarakat sipil, termasuk dari kalangan mahasiswa dan kelas menengah yang aktif di *media sosial*. Jika kondisi ini dibiarkan, risiko guncangan politik yang merugikan pemerintahan dapat terjadi kapan saja. Sehingga, menurut Mikhael, pertemuan ini merupakan strategi Prabowo untuk mendekati pihak yang sebelumnya dianggap sebagai lawan politiknya. Ia menyatakan bahwa, "Prabowo lebih memerlukan pertemuan ini." Dalam konteks urgensi dan pentingnya pertemuan tersebut, mungkin akan terjadi pada waktu-waktu menjelang pelantikan Prabowo. Prabowo mengetahui bahwa tantangan perekonomian Indonesia saat ini, yang ditandai dengan utang pemerintah yang mencapai lebih dari Rp8 ribu triliun, memerlukan dukungan stabilitas politik guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Dia percaya bahwa dengan menjalin hubungan baik dengan Megawati, ikon PDIP, akan terwujud stabilitas politik yang dapat mendukung kepemimpinannya. Meskipun terdapat residu politik akibat Pemilihan Presiden sebelumnya, dampaknya dapat diminimalkan melalui hubungan baik dengan Megawati. Mikhael berpendapat, "Prabowo mungkin merasakan kurang percaya diri jika memulai kepemimpinannya tanpa dukungan dari Megawati." Rivalitas yang ada sebelumnya, menurutnya, dipicu lebih banyak oleh sosok Jokowi dan Gibran, sehingga pertemuan ini sangat penting bagi Prabowo. Prabowo pun memiliki pandangan bahwa oposisi dalam sistem demokrasi liberal yang umum di Eropa dan Amerika tidak sejalan dengan karakter bangsa Indonesia. Oleh karenanya, terlihat jelas bahwa Prabowo berupaya meminimalisir keberadaan oposisi, menginginkan kepemimpinan yang aman serta tanpa gangguan, menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Meskipun Prabowo berada dalam posisi yang menguntungkan, Megawati juga merasakan perlunya pertemuan tersebut. Hal ini untuk menyampaikan pandangannya mengenai hukum, demokrasi, dan sistem tata negara yang tengah berlangsung di masa kepemimpinan Jokowi. Ia mencemaskan banyak kader PDIP yang terlibat masalah hukum akibat pengaruh kekuasaan. Dalam situasi di mana demokrasi saat ini dinilai rusak dan mundur oleh publik dan netizen, Megawati merasa perlu berbagi pemikirannya kepada Prabowo, mengingat hubungan historis di antara mereka tidak memiliki kendala ideologis maupun psikologis. Berbeda dengan hubungan Megawati dan Jokowi yang sulit disatukan, hubungan antara Prabowo dan Megawati memiliki sejarah yang akan memudahkan dialog. Melihat hubungan baik yang terjalin sejak lama, serta kontribusi Megawati dalam membawa Prabowo kembali dari pengasingan di Yordania, Mikhael yakin bahwa pertemuan ini sangat mungkin terjadi dan akan melahirkan komitmen saling menghormati antara keduanya. ANTARA