JAKARTA –
**Borneonews - Gaza**, Pertahanan Sipil Palestina mengungkapkan bahwa militer Israel telah melakukan serangkaian tindakan yang dianggap sebagai pembantaian di wilayah Gaza Utara. Serangan besar-besaran ini menimbulkan situasi yang sangat memprihatinkan bagi masyarakat sipil. Menurut pernyataan resmi dari Pertahanan Sipil Palestina, situasi kemanusiaan di provinsi utara semakin memburuk. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya serangan terhadap lokasi-lokasi seperti Beit Hanoun, Beit Lahia, dan Jabalia selama empat hari berturut-turut. Serangan tersebut juga disertai dengan pengepungan ketat yang menghalangi akses masuknya air, makanan, dan obat-obatan, sehingga memburukkan lagi kondisi kehidupan warga setempat. Akibat dari pembantaian ini, banyak warga sipil yang menjadi korban. Puluhan orang dilaporkan menjadi martir, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Dalam laporan tersebut, tertulis bahwa banyak jenazah korban tergeletak di jalan karena tim penyelamat tidak dapat mencapai lokasi tersebut. Hal ini disebabkan serangan yang ditujukan kepada ambulans dan personel Pertahanan Sipil Palestina. Lebih jauh, Pertahanan Sipil Palestina juga menyoroti ancaman dari militer Israel yang berencana melakukan penggusuran terhadap lebih dari 200.000 penduduk di wilayah Gaza Utara. Tindakan ini tampaknya ditujukan untuk memaksa warga sipil melarikan diri dari tempat tinggal mereka. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa tentara Israel meminta agar pasien dan staf medis dievakuasi ke Rumah Sakit Kamal Adwan, Rumah Sakit Indonesia, dan Rumah Sakit Al-Awda. Tentara Israel bahkan mengancam rumah sakit tersebut dengan penghancuran, pembunuhan, dan penangkapan jika evakuasi tidak dilakukan. Ancaman ini sangat mirip dengan situasi yang menimpa Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, yang telah dikepung selama beberapa minggu terakhir. Pada hari Minggu, 6 Oktober, militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan operasi militer di Jabalia, dengan klaim untuk mencegah *Hamas* mendapatkan kembali kekuatan di sana. Operasi ini mengikuti serangan sengit yang berlangsung selama berjam-jam di timur dan barat Gaza utara, yang menjadi pertempuran paling intens sejak Mei. Saksi mata mengamati bahwa kendaraan militer Israel telah bergerak maju ke daerah-daerah di Gaza barat laut. Pada hari Selasa, 8 Oktober, tentara Israel memperingatkan warga Palestina untuk mengungsi dari rumah dan kamp mereka di kota Jabalia menuju lokasi selatan melalui 'koridor yang aman.' Namun, Kementerian Dalam Negeri Gaza segera memperingatkan bahwa ada penipuan di balik pernyataan tersebut dan menyerukan agar warga tidak mengikuti instruksi itu. Selain itu, pada hari Senin, 7 Oktober, tentara mulai menggusur warga Palestina secara paksa dari tiga kota di Gaza utara. Tindakan ini tampaknya merupakan bagian dari rencana militer yang lebih besar untuk membersihkan wilayah utara Gaza dan melaksanakan pengepungan menyeluruh. Langkah tersebut berpotensi membuka jalan bagi perluasan permukiman lebih lanjut di area yang sudah terdampak. ANTARA