BANDUNG –
**Borneonews - Bandung**, Pemerintah Kota Bandung merencanakan dimulainya konstruksi *Bandung Intra Urban Tol Road* (BIUTR) sepanjang 27,3 kilometer pada tahun 2026. Hal ini disampaikan oleh Pejabat Sementara Wali Kota Bandung, A Koswara, dalam sebuah pernyataan resmi. Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang dalam proses finalisasi *detail engineering design* (DED) dan lelang untuk investasi proyek ini. Koswara menjelaskan bahwa DED dan lelang investasi ditargetkan selesai pada tahun 2025. Apabila kedua proses tersebut rampung sesuai jadwal, konstruksi dapat dimulai pada tahun berikutnya. Rute BIUTR direncanakan akan menghubungkan kawasan Pasteur dengan Gedebage. Namun, Koswara menegaskan bahwa jalur tersebut akan kembali dibahas secara mendetail bersama pihak Kementerian PUPR untuk memastikan kelancaran pelaksanaan proyek. Perlu dicatat bahwa kondisi di lapangan telah mengalami banyak perubahan dibandingkan rencana awal yang dibuat 17 tahun lalu. Koswara menjelaskan bahwa kehadiran *flyover* dan banyaknya gedung tinggi yang telah dibangun mempengaruhi tingkat kesulitan dalam pembangunan tol ini. Oleh karena itu, evaluasi pada aspek tersebut akan sangat krusial sebelum melanjutkan pekerjaan. Proyek tol dalam kota ini berada di bawah tanggung jawab Kementerian PUPR, dari tahap pembebasan lahan hingga proses pembangunan. Koswara menyebutkan bahwa meskipun proyek telah diluncurkan belasan tahun lalu, ada berbagai kendala, termasuk pembebasan tanah yang belum dapat diselesaikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung. Koswara juga menegaskan bahwa, meskipun ada banyak tantangan, proyek BIUTR kini sepenuhnya ditangani oleh pemerintah pusat. Dalam hal ini, Pemkot Bandung akan memberikan dukungan dari sisi sosial masyarakat dan kondisi lapangan di sekitar. Jika tidak ada masalah dalam pembebasan lahan, diharapkan proyek pembangunan tol dalam kota ini dapat selesai pada tahun 2029. Koswara menekankan bahwa tahapan pembangunan sangat bergantung pada kelancaran pembebasan lahan, yang sering kali menjadi hambatan dalam proyek infrastruktur serupa. Ia berharap dengan adanya persiapan matang yang telah dilakukan, proses ini akan berjalan lebih lancar. ANTARA