**Borneonews - Kupang, Nusa Tenggara Timur**, Angin sejuk di Lembah Bikomi berhembus lembut di atas Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Di tengah kondisi cuaca yang tidak terlalu panas, Regina Siki tampak serius mengoperasikan alat tenun kayu miliknya.
Regina dengan telaten menjalin benang demi benang untuk menciptakan kain tradisional yang indah dari *Bumi Flobamora*, semacam penyebutan lain untuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Kain ini akan memerlukan waktu sekitar seminggu lagi untuk selesai, ujarnya sembari fokus pada pekerjaan tenunnya yang disediakan oleh Kementerian Sosial.
Kain tersebut dihargai Rp500 ribu per lembar, yang telah dipesan sebelumnya oleh salah satu tetangganya untuk digunakan dalam sebuah perayaan. Tak jarang, Regina harus berhenti sejenak untuk melayani pembeli yang datang ke warung sayurnya. Aktivitas ini telah menjadi rutinitas Regina dalam setahun terakhir.
Selain menjalankan usaha sayur yang dikelolanya sejak 2012, kini Regina juga aktif dalam ekonomi kreatif dengan memproduksi kain tenun khas Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya, hingga tahun 2012, Regina tidak pernah memikirkan untuk mencari nafkah di desa asalnya seperti yang ia lakukan sekarang.
Keterbatasan lapangan kerja bagi warga berpendidikan rendah mendorong banyak orang di Kefamenanu, termasuk Regina, untuk bermimpi menjadi pekerja migran, terutama di Malaysia. Pada saat itu, iming-iming pendapatan besar sebagai pekerja migran menarik minat Regina dan warga lainnya. Namun, janji gaji besar sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia ternyata hanya tipuan dari para calo.
Regina menghadapi penganiayaan dan gajinya ditahan oleh majikannya. Kendati telah bekerja selama dua tahun, ia hanya menerima Rp4 juta. Padahal, total gaji yang seharusnya ia terima selama dua tahun bekerja seharusnya mencapai tidak kurang dari Rp27 juta. Majikannya bahkan memotong sebagian besar gajinya untuk menutupi biaya pengobatan, lantaran Regina kerap kali mengalami sakit.
Kondisinya diperparah dengan tempat tinggal yang tidak layak, di mana ia tidak disediakan kasur, serta porsi makanan yang sangat minim. Durasi jam kerja yang tidak menentu turut menambah beban pikirannya. kondisi ini membuat Regina merasa tertekan hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di Malaysia. Ia merasa lebih baik menjalani kehidupan yang keras di kampung halaman ketimbang harus berjuang di negeri orang dengan perlakuan yang tidak adil.
Setelah kembali ke tanah air, Regina mencoba berbagai pekerjaan dengan penghasilan yang tidak pasti. Akhirnya, ia memutuskan membuka warung sayur menggunakan sisa gaji dari kerja di Malaysia dan beberapa aset yang dimilikinya. Perlahan, keberuntungan mulai berpihak padanya. Jumlah pelanggan yang meningkat membuat usaha sayurnya berkembang pesat. Dari usaha ini, Regina dapat menyekolahkan kelima anaknya.
Sebelas tahun setelah kepulangannya, Regina mendapatkan anugerah dari Tuhan melalui Kementerian Sosial. Ia terpilih sebagai salah satu penerima program pemberdayaan bagi mantan korban perdagangan manusia dan pekerja migran Indonesia yang bermasalah, serta mendapatkan bantuan sekitar Rp13 juta. Dana tersebut ia gunakan untuk mengembangkan usaha warung dan mewujudkan impiannya menjadi seorang perajin tenun. Sejak remaja, Regina memiliki bakat dalam menenun, namun tidak dapat mewujudkannya karena keterbatasan modal.
Kini sembari mewujudkan impian lamanya, ia juga berhasil menyekolahkan dua putranya ke perguruan tinggi dari hasil penjualan kain tenunnya. Sebuah perjalanan yang sejalan juga dihadapi oleh Yudit Bana, 41 tahun, yang mulai berusaha mewujudkan mimpinya di desa setelah memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai tenaga migran di Malaysia.
Perubahan dari pekerja migran menjadi pengusaha di Timor Tengah Utara bukanlah hal yang mudah bagi Yudit. Ia mengalami berbagai tantangan saat berusaha berternak ayam broiler. Kesabarannya akhirnya terbayar pada tahun 2023 saat ia menerima bantuan tunai sekitar Rp10 juta dari program yang serupa dengan Regina.
Dari 100 ayam yang dipeliharanya, Yudit telah meraih hasil dari lima kali panen. Dari panen terakhir, ia bahkan mampu menabung untuk biaya kuliah anaknya satu semester. Berbeda dengan Yudit, pengalaman Yohanis Nismeto, 38 tahun, dalam bekerja di Malaysia selama delapan tahun berakhir tragis di penjara selama tiga bulan.
Yohanis merasa marah karena paspor dan visa kerjanya sudah lama kadaluarsa, akibat agen penempatan yang tidak memperpanjangnya, meskipun hal itu sudah tercantum dalam surat kontrak. Namun, setelah dibebaskan dari penjara di Malaysia, Yohanis mendapat perlakuan baik dari pemerintah Indonesia.
Kementerian Sosial menjemputnya dan membawanya pulang ke Nusa Tenggara Timur, meskipun ia tidak langsung kembali ke desanya di Amfoang, wilayah yang berbatasan dengan distrik Oekusi Ambenu di Timor-Leste. Sesampainya di Nusa Tenggara Timur, Yohanis dibawa ke pusat rehabilitasi dan pelatihan kementerian di Naibonat, Kabupaten Kupang. Di sana, ia mengikuti rehabilitasi dan pelatihan keterampilan agar dapat bangkit kembali setelah melalui masa gelap di Malaysia.
Melalui pelatihan pertanian dan peternakan, Yohanis memperoleh berbagai keterampilan selama hampir sebulan di pusat pelatihan kementerian. Dengan tekad untuk memulai usaha peternakan ayam di desanya, Yohanis berharap dapat berhasil sehingga tidak perlu lagi bekerja di luar negeri untuk mencari nafkah.
Program rehabilitasi dan perlindungan yang dijalankan melalui Efata Kupang Center oleh kementerian sejak tahun 2023 mencakup 46 orang mantan pekerja migran, mantan korban perdagangan manusia, serta mereka yang bekerja di luar provinsi sebelumnya. Menurut Kepala Kelompok Kerja Kedaruratan Efata Kupang, Muhammad Saibuddin, penerima manfaat diberikan pelatihan dalam berbagai keterampilan.
Mereka juga menerima bantuan modal yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis yang mereka pilih. Setelah memulai usaha, para penerima manfaat dari program Kementerian Sosial juga mendapat dukungan saat menjalankan kegiatan tersebut, dengan evaluasi kemajuan dilakukan setiap tiga bulan.
Petugas dari Efata Kupang Center berkomitmen untuk terus memberikan saran kepada penerima manfaat yang kurang berhasil dalam usaha yang dipilih, guna meningkatkan strategi bisnis mereka atau memberikan pelatihan ulang untuk keterampilan yang lebih sesuai. Keterbatasan pendidikan dan kurangnya keterampilan spesifik menjadi tantangan bagi mantan pekerja migran yang kembali ke Nusa Tenggara Timur dengan potensi untuk bekerja di wilayah lain.
Mantan korban perdagangan manusia dan pekerja migran yang menghadapi masalah ini diharapkan mampu beradaptasi dan mandiri dengan usaha baru di kampung halaman mereka. Selain menenun harapan, perjuangan para mantan korban dan pekerja migran yang bermasalah untuk bangkit kembali menjadi mandiri adalah bagian dari upaya lebih besar membangun kampung halaman mereka di Nusa Tenggara Timur dan bagi negara Indonesia secara keseluruhan.
ANTARA
Membangkitkan Harapan melalui Kain Tenun di Nusa Tenggara Timur
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Adam Alis Cetak Gol Penentu Kemenangan Persib atas Garudayaksa 2-1
Hujan Perdana Banjarbaru Diwarnai Pohon Tumbang Akibat Angin Kencang
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
Komentar (0)
Memuat komentar…







