**Borneonews - Denpasar**, Pelaku industri pariwisata di Bali menekankan pentingnya pengurangan bahaya yang ditimbulkan oleh asap rokok, termasuk produk alternatif, guna menjaga kenyamanan para wisatawan dan melindungi individu yang tidak merokok.
Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR) di Denpasar, Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen, menyampaikan bahwa dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang, muncul berbagai karakter dan kebiasaan baru. Salah satu perilaku yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan merokok, yang dapat menyebabkan polusi udara di tempat-tempat umum.
Ida Bagus Purwa juga mengusulkan bahwa pelaku industri perhotelan di Bali sebaiknya membuat area khusus untuk penggunaan produk tembakau alternatif, seperti *rokok elektronik*, yang diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih ramah bagi wisatawan.
Dalam diskusi bertema Penerapan Pengurangan Bahaya Tembakau sebagai Strategi Komplementer Mengatasi Permasalahan Merokok dan Mendukung Pariwisata Bali, Prof. Dr. Amaliya, seorang Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad), membahas perbedaan risiko antara rokok konvensional dan *rokok elektrik*. Menurutnya, emisi dari rokok konvensional memiliki daya tahan lebih lama. Jika digunakan pada lokasi yang sama dalam jangka waktu sekitar tiga bulan, asap rokok tersebut dapat meninggalkan bekas warna kuning.
Pernyataan lebih lanjut dari Prof. Amaliya mengungkapkan bahwa rokok yang disulut menghasilkan residu yang dikenal sebagai *particulate matter* (PM) yang dapat bertahan antara lima hingga tujuh jam. Residu ini dapat berdampak buruk terhadap ruangan, kesehatan tubuh, dan juga pakaian si perokok. Di sisi lain, *rokok elektrik* beroperasi dengan cara memanaskan cairan di bawah 200 derajat Celsius, yang menyebabkan pembentukan aerosol dan tidak mengandung tar, zat kimia berbahaya yang terdapat dalam rokok konvensional.
Uap atau aerosol yang dihasilkan berbeda dari asap rokok. Karena produk tembakau alternatif tidak menghasilkan tar, maka risiko kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih sedikit," jelas Prof. Amaliya. Ia mendorong penciptaan area terpisah bagi perokok konvensional dan pengguna *rokok elektrik* untuk mendukung kebijakan yang saling menghargai dan menjaga kesehatan masyarakat yang tidak merokok.
Dari perspektif yang berbeda, Prof. Ida Bagus Raka Suardana, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Nasional (Undiksha) Bali, berpendapat bahwa pengendalian asap rokok sangat penting untuk menciptakan kenyamanan di kalangan wisatawan, terutama di saat pemulihan sektor pariwisata di Bali.
Dengan memastikan kenyamanan para pengunjung melalui penerapan protokol kesehatan, menjamin kebersihan, dan pengelolaan lingkungan yang baik, kita berharap perekonomian Bali akan tetap stabil dan tumbuh, tutupnya.
ANTARA
Pengurangan Asap Rokok Dukung Kenyamanan Wisata di Bali
Bagikan:

DENPASAR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Komentar (0)
Memuat komentar…







