SEMARANG –
**Borneonews - Cilacap**, Kelompok Masyarakat Mandiri Kutawaru, yang dikenal dengan sebutan Mamaku, secara aktif memberdayakan mantan buruh migran dan mantan anak buah kapal (*ABK*) di area Kelurahan Kutawaru, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat. Ketua Kelompok Mamaku, Rato, menyampaikan bahwa keanggotaan kelompok ini terdiri dari 15 pria yang merupakan mantan *ABK* dan 15 wanita yang dulunya bekerja sebagai buruh migran. Mereka, yang sebelumnya terlibat dalam pekerja-an di kapal-kapal domestik dan internasional, kini tidak lagi dapat bekerja di laut atau di luar negeri karena bertambahnya usia. Kelompok Mamaku, yang terbentuk pada tahun 2020, memberikan kontribusi positif bagi para mantan *ABK* dan buruh migran. Sebelumnya, mereka tidak memiliki penghasilan yang stabil. Banyak di antara mereka, khususnya para wanita, kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah akibat ketidakadaan pekerjaan. Rato menjelaskan bahwa saat musim hujan, para wanita ini biasanya membantu dalam kegiatan pertanian, khususnya menanam padi, dengan penghasilan harian yang cukup rendah, sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Sementara itu, para mantan *ABK* yang beralih menjadi nelayan juga menghadapi kesulitan dalam mencari ikan di laut, terutama di kawasan Segara Anakan, disebabkan meningkatnya jumlah jaring apung. Akibatnya, banyak mantan buruh migran yang bergabung dengan Kelompok Mamaku untuk menjalankan usaha bersama. Mereka beralih dari perikanan tangkap menjadi perikanan budi daya, dan saat ini, rata-rata anggota kelompok tersebut dapat meraih pendapatan hampir Rp2 juta per orang, yang tentunya sangat membantu kehidupan mereka. Kelompok Mamaku juga sedang mengembangkan sejumlah unit usaha, antara lain budidaya kepiting cangkang lunak, pemancingan ikan kerapu dan kakap, serta aktivitas susur sungai. Mereka juga menyediakan akomodasi seperti *homestay* dan pusat belajar bagi anak-anak. Spesifik untuk budidaya kepiting cangkang lunak, kelompok ini mengelola lahan seluas 2,5 hektare. Sebagian dari lahan tersebut milik kelompok dan ada pula yang dimiliki anggota. Rato memperkirakan potensi panen kepiting cangkang lunak mencapai 2 hingga 3 kuintal setiap bulan, sementara pemancingan ikan dapat memberikan hasil yang lebih banyak. Inovasi baru dalam budidaya kepiting, yang dikenal sebagai *rusun tinggi*, tengah dikembangkan oleh kelompok ini. Konsep ini mencakup penggunaan rak bertingkat untuk budidaya kepiting, menunjukkan bahwa budidaya tidak harus dilakukan di tambak tradisional, tetapi juga dapat dilakukan di darat. Inovasi ini memanfaatkan panel surya untuk mengoperasikan aerator dan sistem lainnya. Dengan pendekatan ini, budidaya kepiting dapat direalisasikan di lingkungan perkotaan, meskipun mereka menghadapi tantangan terkait kebutuhan air asin. Namun, tantangan ini bisa diatasi dengan menambahkan garam krosok ke dalam air. Rato menambahkan bahwa saat Kelompok Mamaku baru berdiri, semua operasional dilakukan secara swadaya. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka mendapatkan dukungan dari PT Kilang Pertamina Internasional (*KPI*) RU IV Cilacap, yang membantu kelompok ini untuk berkembang. Cecep Supriyatna, Area Manager Communication Relations and CSR PT KPI RU IV Cilacap, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2022, pihaknya telah memberikan dukungan mobilitas dan pengembangan sarana kepada Kelompok Mamaku. Program ini dimulai dari inisiasi pada tahun 2022, dilanjutkan dengan sosialisasi pada tahun 2023, dan diharapkan dapat berlanjut dengan pengembangan lebih lanjut pada tahun 2024, termasuk inovasi *rusun tinggi*. Dukungan ini diberikan berdasarkan hasil pemetaan sosial di Kelurahan Kutawaru, di mana masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai nelayan, *ABK*, maupun buruh migran. Hal ini mendorong keinginan warga untuk mampu mandiri di kampung mereka sendiri, terlebih lagi, mengingat akses jalan untuk menuju lokasi ini cukup sulit, baik melalui jalur sungai maupun darat. ANTARA