JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui perwakilan Kemitraan di Program Daerah Mitra (PDM) 11 Gerakan Sekolah Sehat (GSS), Catur Budi Santoso, menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk pelaksanaan lima pilar dalam program GSS pada satuan pendidikan. Diskusi mengenai topik ini dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Catur menjelaskan bahwa program ini berfokus pada lima aspek kesehatan, yaitu sehat bergizi, sehat fisik, sehat imunisasi, sehat jiwa, dan sehat lingkungan. Masing-masing pilar memiliki strategi khusus untuk diimplementasikan dalam lingkungan sekolah. Pertama, untuk mencapai sehat bergizi, diperlukan kebiasaan mengonsumsi air putih yang cukup, yaitu minimal dua gelas setiap hari selama beraktivitas di sekolah. Selain itu, meningkatkan kesadaran akan pentingnya makanan bergizi seimbang perlu dilakukan, terutama yang mengandung protein tinggi, buah, dan sayuran. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan sarapan atau makan bersama setidaknya satu kali dalam seminggu. Catur juga menekankan pentingnya mengurangi asupan makanan cepat saji serta makanan yang mengandung tinggi gula, garam, dan lemak. Khususnya bagi remaja putri, penting untuk membiasakan konsumsi tablet tambah darah. Kedua, terkait dengan sehat fisik, Catur mengusulkan agar pihak sekolah membiasakan kegiatan fisik seperti peregangan, senam, jalan kaki, serta permainan atau olahraga tradisional. Ia menambahkan, "Peregangan bisa dilakukan sambil menyanyi dan dengan berbagai gerakan yang menyenangkan, sehingga siswa tidak merasa malas beraktivitas.” Selanjutnya, untuk memastikan sehat imunisasi, penting untuk melakukan pemerataan status imunisasi siswa. Sekolah diharapkan memberikan informasi dan rekomendasi kepada orang tua mengenai siswa yang belum menerima imunisasi lengkap. Pelaksanaan imunisasi bagi anak usia sekolah juga perlu dilakukan secara rutin, terutama pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang jatuh pada bulan Agustus dan November. Ketiga, pada aspek kesehatan mental, perlu ada sosialisasi tentang kesehatan jiwa yang dilakukan minimal satu kali dalam satu semester. Selain itu, pelaksanaan doa bersama sebelum dan sesudah kegiatan belajar juga dianjurkan. Peningkatan pengetahuan dan kapasitas pendidik mengenai kesehatan jiwa serta skrining kesehatan jiwa siswa melalui kerja sama dengan Puskesmas menjadi bagian penting dari program ini. Sekolah juga perlu mensosialisasikan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 46 Tahun 2023 yang mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Terakhir, untuk mencapai sehat lingkungan, penting untuk membiasakan cuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, serta membuang sampah pada tempatnya. Diharapkan juga dilaksanakan kegiatan kerja bakti untuk menjaga kebersihan sekolah minimal sekali sebulan. Selain itu, sekolah didorong untuk menerapkan kawasan tanpa rokok atau vape di lingkungan mereka, menyediakan toilet yang berfungsi dengan baik, serta menciptakan kantin yang sehat. Ruang kelas sebaiknya juga dirancang untuk mendapatkan pencahayaan dan penghawaan yang alami. Catur menekankan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab tenaga pendidik saja, melainkan seluruh siswa dan ekosistem yang ada di sekolah. Kebersihan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dipegang oleh semua pihak yang terlibat. ANTARA