JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Penasihat Senior Laboratorium Indonesia 2045 (Lab 45), Andi Widjajanto, mengungkapkan bahwa presiden terpilih Prabowo Subianto diperkirakan akan lebih mengarahkan perhatian kepada Qatar sebagai potensi sumber investasi. Dalam analisisnya, Andi mempertimbangkan situasi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah dan bagaimana hal itu bisa berdampak pada Indonesia. Andi menegaskan bahwa sebelumnya, Presiden Jokowi lebih cenderung membangun hubungan dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE). Namun, Andi percaya bahwa Prabowo mungkin akan mengambil langkah yang berbeda dengan lebih fokus ke Qatar. Ia juga mencatat bahwa perhatian Prabowo terhadap negara-negara di Eropa Barat mungkin tidak sekuat yang diharapkan, karena banyak tantangan yang harus dihadapi. Selanjutnya, Andi menunjukkan bahwa meskipun ada pergeseran dalam fokus terhadap Qatar, Prabowo diperkirakan tetap akan mempertahankan pendekatan yang diambil oleh Jokowi dalam menjalin kerjasama investasi dengan China. Dengan situasi ekonomi global yang sedang berubah dan meningkatnya polarisasi, Andi menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Prabowo untuk menarik investasi asing tetap harus mengedepankan kerja sama dengan negara-negara yang menghasilkan *petroldollar*. Andi juga menilai bahwa kompleksitas dinamika geopolitik di masa depan akan menjadi tantangan tersendiri bagi Prabowo. Ia mencatat bahwa pilihan untuk mendapatkan investasi asing akan lebih terbatas dibandingkan periode awal kepemimpinan Jokowi di tahun 2014, di mana terdapat lebih banyak opsi untuk menjalin kemitraan investasi global. “Pada tahun 2014, terdapat lebih banyak pilihan untuk mencari berbagai opsi kerja sama dalam investasi dibandingkan Prabowo di tahun 2024-2025,” ujar Andi. Lebih lanjut, Andi mengingatkan bahwa Prabowo mungkin perlu bersiap menghadapi skenario terburuk yang dapat muncul dari ketegangan geopolitik global. Terlebih, konflik yang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina serta serangan Israel ke Gaza—yang juga memicu eskalasi di Lebanon, Yaman, Suriah, dan Iran—patut diwaspadai. “Kita bukan negara yang terlibat perang dengan siapapun dan tidak berkonflik dengan pihak manapun. Namun, yang kami khawatirkan adalah terjadinya intervensi dari Amerika Serikat dan Australia di wilayah kita untuk melindungi kepentingan mereka di Asia Timur,” ungkap Andi. ANTARA