BORNEONEWS, Palangka Raya - Penurunan Nilai Tukar Petani Peternakan atau NTPT sebesar 2,51 persen pada September 2024 menjadi perhatian utama bagi para peternak di Kalimantan Tengah.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa meskipun indeks harga yang diterima peternak atau Ib mengalami kenaikan tipis sebesar 0,07 persen, penurunan indeks harga yang dibayar peternak atau It sebesar 2,44 persen menjadi faktor utama penurunan NTPT.
Penurunan It ini disebabkan oleh turunnya harga pada beberapa kelompok ternak, terutama ternak besar seperti sapi potong dan kerbau yang mengalami penurunan harga sebesar 1,27 persen, serta unggas seperti ayam ras pedaging dan itik manila yang turun hingga 3,25 persen. Sebaliknya, kelompok ternak kecil seperti babi dan kambing, serta hasil ternak seperti telur ayam ras, justru mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 1,00 persen dan 0,76 persen.
Agnes menekankan pentingnya memahami dinamika harga di berbagai kelompok ternak untuk mengembangkan strategi yang tepat dalam mendukung kesejahteraan peternak.
"Kami terus memantau perkembangan ini dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik," kata Agnes pada Rabu, 9 Oktober 2024.
Kenaikan Ib pada NTPT sebesar 0,07 persen didominasi oleh kenaikan indeks kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal atau BPPBM sebesar 0,18 persen, menunjukkan adanya peningkatan biaya produksi yang harus ditanggung oleh peternak.
Dengan adanya penurunan NTPT ini, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membantu peternak menghadapi tantangan yang ada, serta memastikan keberlanjutan subsektor peternakan di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)









