**Borneonews - Pesisir Barat**, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pesisir Barat, yang terletak di Provinsi Lampung, melaporkan telah menangani sebanyak 28 kasus baru *HIV/AIDS* selama periode Januari hingga September tahun 2024. Suryadi, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat, menjelaskan bahwa semua individu yang terdiagnosis positif *HIV/AIDS* di daerah tersebut telah mendapatkan perawatan dan pengobatan yang diperlukan. "Tim kesehatan dari puskesmas dan rumah sakit di Pesisir Barat telah menangani 28 kasus *HIV/AIDS* hingga saat ini," ujarnya dalam sambungan telepon dari Lampung Selatan. Dia menekankan bahwa virus *HIV/AIDS* ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, namun remaja merupakan kelompok yang paling banyak terpengaruh. Dalam upaya memperkuat pengobatan, pihaknya telah mendirikan fasilitas kesehatan rujukan untuk pemeriksaan *Viral Load HIV* di Puskesmas Krui, yang dirancang untuk memberikan pengobatan yang tepat bagi para penderita. Suryadi melanjutkan, "Kami telah berupaya untuk menghentikan penularan penyakit sifilis dan *HIV/AIDS* dengan menyediakan layanan pemeriksaan *HIV* di Puskesmas. Dengan cara ini, jika ada anggota masyarakat yang terinfeksi, mereka bisa segera diobati untuk mencegah penularan ke anak saat persalinan." Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan juga aktif melakukan edukasi kepada kelompok yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini. Suryadi mengimbau kepada masyarakat, khususnya remaja, untuk menjauhi pergaulan bebas dan perilaku seksual yang berisiko. "Kami mengajak semua orang untuk mencegah penularan *HIV/AIDS* dengan menerapkan hubungan seksual yang aman, tidak berganti-ganti pasangan, dan menghindari penggunaan narkoba dengan jarum suntik yang dipakai secara bersama-sama," tegasnya. Perlu dicatat, bahwa jumlah kasus *HIV* di Kabupaten Pesisir Barat mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Pada tahun 2023, terdapat 17 kasus, sedangkan pada tahun 2024 meningkat menjadi 28 kasus. Ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran dan tindakan pencegahan yang lebih efisien di masyarakat. ANTARA