JAKARTA –
**Borneonews - Batam, Riau Islands**, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia memperkirakan bahwa potensi budidaya lobster di Tanah Air dapat mencapai nilai ekonomis hingga US$53 miliar pada tahun 2030. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian tersebut, Tb Haeru Rahayu, menyampaikan pernyataan ini dalam sebuah acara pemantauan persiapan peluncuran proyek model budidaya lobster di Batam. Rahayu menyebutkan bahwa lobster Indonesia memiliki potensi luar biasa dibandingkan dengan lobster dari negara lain, sehingga komoditas ini termasuk dalam lima komoditas unggulan yang dikembangkan melalui proyek model budidaya berkelanjutan. Tahun lalu, produksi lobster di Indonesia tercatat hanya sebanyak 433 ton, dengan nilai produk sekitar Rp179 miliar, yang setara dengan kurang lebih US$11,45 juta. Meski demikian, Rahayu mengungkapkan bahwa fokus Indonesia masih lebih banyak pada budidaya udang, meskipun potensi lobsternya sangat besar. Dari budidaya bibit lobster, Indonesia diperkirakan dapat meraih pendapatan sebesar Rp419 miliar, setara dengan sekitar US$26,82 juta pada tahun depan. Rahayu menunjukkan optimisme bahwa Indonesia akan menjadi pemimpin dalam rantai pasokan global untuk komoditas lobster, dengan membangun model budidaya di Pusat Perikanan Budidaya Laut di Batam. Ia menegaskan, “Jika proyek ini berhasil dan dapat direplikasi oleh para pemangku kepentingan, maka Indonesia akan menjadi pemimpin rantai pasokan global untuk lobster dan udang.” Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, direncanakan akan meresmikan proyek model budidaya lobster di Batam pada hari Kamis, 10 Oktober 2024. Proyek ini dirancang dengan 144 lubang lobster dan merupakan proyek model budidaya yang keempat yang diluncurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain lobster, tiga komoditas lainnya yang juga telah memulai proyek model budidaya sebelumnya meliputi udang di Kebumen, Jawa Tengah; rumput laut di Wakatobi, Sulawesi Tenggara; dan ikan tilapia toleran salinitas di Karawang, Jawa Barat. ANTARA