JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto, melakukan pertemuan dengan Duta Besar Brasil untuk Indonesia, George Monteiro Prata, di Jakarta pada hari Rabu. Dalam pertemuan ini, mereka membahas pengalaman Brasil dalam pemindahan ibu kota negara, yang dilakukan dari Rio de Janeiro ke Brasilia pada tahun 1960. Ombudsman RI tertarik untuk mengetahui faktor-faktor kunci yang mendukung keberhasilan Brasil dalam melakukan pemindahan tersebut, sebagai upaya untuk menyelesaikan kajian terkait kesiapan infrastruktur dalam pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Hery Susanto menjelaskan bahwa dalam proses pemindahan ibu kota, pasti terdapat berbagai pro dan kontra. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pengalaman Brasil sangat relevan, mengingat terdapat sejumlah kesamaan antara Indonesia dan Brasil. Pemindahan ibu kota Indonesia merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan pemerintah, ke depannya diharapkan dapat menciptakan orientasi pembangunan yang lebih adil serta mempercepat transformasi ekonomi yang selama ini terpusat di Pulau Jawa. Namun, Hery menegaskan bahwa pemindahan ibu kota tidaklah sederhana. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan menghadapi berbagai tantangan, termasuk di dalamnya keberlanjutan pembangunan, aspek lingkungan, kesiapan infrastruktur, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Kebutuhan dasar yang dimaksud mencakup akses terhadap kesehatan, pendidikan, serta akulturasi budaya. Selain itu, aksesibilitas terhadap layanan publik di tingkat pemerintahan pusat juga sangat penting dalam konteks ini. Mengingat kompleksitas dalam pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN), Ombudsman RI berkomitmen untuk memastikan pelayanan publik berjalan dengan efektif, terutama dalam hal kesiapan infrastruktur di IKN, terutama saat fase awal pemindahan Aparatur Sipil Negara (ASN). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, Ombudsman RI berusaha membahas pengalaman Brasil dalam pemindahan ibu kota dengan lebih mendalam. Sementara itu, Dubes Brasil, George Monteiro Prata, menekankan bahwa membangun ibu kota baru bukanlah tugas yang mudah. Ia menjelaskan bahwa IKN diharapkan dapat menjadi simbol kekayaan Indonesia di mata dunia. George menyoroti beberapa perbedaan antara pembangunan IKN dan pemindahan ibu kota di Brasil. Di Brasil, hampir seluruh dana yang digunakan untuk pemindahan ibu kota berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tanpa mengandalkan teknologi canggih. George juga menceritakan bahwa ketika Brasilia dibangun, ada tantangan di mana banyak ASN enggan untuk pindah ke ibu kota baru meskipun mereka ditawarkan gaji dua kali lipat dan tempat tinggal gratis. Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka mau pindah. Saat ini, Brasilia memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di Brasil. George memberikan saran kepada Indonesia untuk terus memperhatikan habitat lokal yang akan terpengaruh pada pembangunan yang sedang dan akan dilakukan. ANTARA