SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melaksanakan edukasi bagi Generasi Z (Gen Z) mengenai pentingnya menyeimbangkan ambisi dengan kesehatan mental. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya menyadarkan generasi muda tentang tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mira Tripuspita, VP Business Support Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa dan seorang psikolog klinis, mengungkapkan bahwa Gen Z sering kali disebut sebagai generasi stroberi. Istilah ini menandakan bahwa meskipun mereka cocok dengan predikat yang tampaknya kuat dan mencolok, mereka sebenarnya cukup rentan terhadap berbagai tekanan dari lingkungan di sekitar mereka. Dalam acara yang bertajuk “Gen Z: Ambisi vs Kesehatan Mental”, Mira menuturkan bahwa kesehatan mental dan keseimbangan kerja-hidup sudah menjadi perhatian utama bagi Gen Z. Sebagaimana diungkapkan oleh Mira, salah satu masalah yang sering dihadapi Gen Z adalah kecenderungan untuk melakukan *self diagnosis*, sebuah perilaku yang jarang dilakukan oleh generasi sebelumnya. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka berupaya untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi mental mereka sendiri meskipun terkadang pemikiran mereka masih kurang mendalam. Misalnya, banyak yang berharap untuk memiliki rumah, tetapi ragu untuk menginvestasikan uang mereka secara bijak. Diskusi ini juga menyentuh perilaku konsumtif yang mendominasi mereka, di mana banyak Gen Z secara rutin mengunjungi kedai kopi untuk bersosialisasi. Lebih lanjut, Gen Z sering memiliki keinginan untuk berlibur ke berbagai negara, serta banyak yang sudah membeli tiket untuk konser yang akan datang. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 75 persen Gen Z memiliki setidaknya satu tiket konser dalam enam bulan ke depan. Semua ini dilakukan dengan alasan untuk merelaksasi diri dan mengurangi tingkat stres, fenomena yang lazim dikenal sebagai *healing*. Berbagai istilah seperti FOMO (*Fear of Missing Out* atau ketakutan akan ketinggalan), YOLO (*You Only Live Once* atau hidup hanya sekali), dan FOPO (*Fear of People Opinion* atau ketakutan terhadap penilaian orang lain) menjadi faktor pendorong bagi mereka untuk mencapai semua cita-cita tersebut. Selain itu, pengaruh media sosial yang terus menerus hadir dalam kehidupan sehari-hari semakin memperkuat ambisi mereka. Pesan-pesan dari influencer sering dijadikan panduan dalam mengambil keputusan, termasuk dalam konteks melamar pekerjaan. Mira menyarankan agar meskipun ambisi itu penting, sangat diperlukan untuk melakukan *check-in* dengan kenyataan agar tidak mengalami tekanan berlebih. Ia menekankan pentingnya fokus pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan untuk menghindari stres yang tidak perlu. Acara tersebut memberikan kesempatan berharga kepada mahasiswa ITS dari berbagai jurusan untuk berinteraksi secara langsung dengan Mira, yang juga berbagi tips penting untuk dapat bekerja di Pertamina. “Minimal PK (Persyaratan Kompetensi) 3. Tidak perlu berlebihan hingga mengalami stres. Pahami dengan baik mengenai perusahaan tempat melamar, kemampuan berkomunikasi yang baik, perilaku yang sopan, serta keinginan dan ketertarikan yang kuat untuk bergabung dengan perusahaan tersebut, serta memiliki kompetensi yang sesuai,” ungkapnya. Pada tahun 2023, Pertamina Hulu Energi, anak perusahaan Pertamina yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sektor hulu migas, menerima 36 ribu pendaftar. Dari jumlah tersebut, hanya 100 pelamar yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk bergabung. ANTARA