MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Dalam beberapa minggu terakhir, telah terjadi serangkaian kecelakaan yang melibatkan wisatawan saat mendaki Gunung Rinjani yang terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Insiden-insiden tersebut tidak hanya menyebabkan luka-luka, tetapi juga mengakibatkan kematian pada beberapa pendaki. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Lombok, Yarman, mengungkapkan pentingnya kesiapan fisik dan mental bagi para pendaki, khususnya bagi mereka yang masih pemula. Ia menjelaskan bahwa jalur pendakian di gunung tertinggi kedua di Indonesia ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup ekstrem. Lebih lanjut, Yarman menekankan, "Untuk mendaki Gunung Rinjani, para pendaki pemula sebaiknya melakukan banyak latihan fisik dan mental, serta memahami kondisi medan. Selain itu, peralatan yang digunakan harus dalam kondisi baik, dan mereka juga perlu memperhatikan cuaca di atas gunung." Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi umumnya disebabkan oleh kelalaian para pendaki serta pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh pihak Balai TNGR. Berikut adalah rincian beberapa insiden kecelakaan yang melibatkan para pendaki, berdasarkan informasi dari Balai TNGR: 1. Pada 16 September 2024, seorang wisatawan asal Malaysia bernama Mohd Hafidz (38) mengalami kecelakaan ketika mendaki melalui jalur Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Ia jatuh ke dalam jurang saat berusaha menghindari porter yang melintas. Meskipun berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, ia mengalami luka yang cukup parah di leher, punggung, serta pergelangan kaki sebelah kanan. 2. Kemudian, pada 29 September 2024, seorang pembawa kabar dari Jakarta, Kaifat Rafi Mubarrok (16), terjatuh di tebing punggungan Plawangan Sembalun. Setelah pencarian berlangsung selama delapan hari, korban ditemukan meninggal dunia di kedalaman 200 meter di bawah tebing kaldera Rinjani, di sisi jalur pendakian. 3. Pada 4 Oktober 2024, terjadi kembali kecelakaan yang melibatkan wisatawan asal Rusia di sekitar Pos 4 jalur pendakian Sembalun. Wisatawan tersebut, Rusmordovina Alexandra (44), diketahui mendaki secara ilegal dan tidak terdaftar dalam sistem e-Rinjani. Tim SAR gabungan membutuhkan waktu lima jam untuk mengevakuasi korban yang mengalami patah tulang dan pendarahan di kepala. 4. Terakhir, pada Rabu pagi, 9 Oktober 2024, seorang wisatawan asal Irlandia, Farrel Paul (31), mengalami kecelakaan jatuh dari tebing setinggi sekitar 200 meter. Beruntung, tim SAR berhasil mengevakuasi Paul dengan cepat ke shelter darurat, dan ia hanya mengalami luka ringan di bagian bahu. Yarman menegaskan bahwa Balai TNGR akan melakukan evaluasi menyusul rangkaian kecelakaan ini. Salah satu langkah yang akan diambil adalah mewajibkan setiap pendaki untuk menggunakan jasa porter dan pemandu. Ia juga mengingatkan para pendaki untuk tidak menggunakan telepon genggam secara tidak bijak, terutama untuk bermain di media sosial atau mengambil foto diri di lokasi berbahaya. Selain itu, Yarman menambahkan, pengawasan akan diperketat untuk memastikan para pendaki mematuhi standar operasional prosedur (SOP), termasuk dalam hal pembelian tiket melalui aplikasi *e-Rinjani*. "Mendaki secara resmi sangatlah penting agar kami dapat melakukan pengawasan. Seringkali, mereka yang mendaki secara ilegal merasa takut dan berusaha menghindar dari petugas," jelasnya. ANTARA